Welcome to Ayucities

Reading...
Thinking...
Aspirating...
Writing...

Kamis, 23 Juli 2009

PERTANIAN DESA SEBAGAI PLATFORM PEREKONOMIAN NASIONAL DITINJAU DARI ASPEK SOSIOLOGI

Oleh :
Indah Ayu Wardhani


MALANG
SEPTEMBER 2007


Potensi Pertanian Desa
Desa lahir setelah cocok tanam dikenal manusia. Sebagai tempat pemukiman desa memiliki hubungan erat dengan pertanian. Sebab, cocok tanam memaksa orang tinggal di suatu tempat untuk memelihara tanaman dan menunggu hasil panennya. Eratnya kaitan eksistensi desa dan pertanian ini menyebabkan orang cenderung mengidentifikasikan desa dengan pertanian. Umumnya orang berpendapat bahwa masyarakat desa adalah petani dan petani adalah masyarakat desa.
Dengan melihat kenyataan seperti itu maka perlu dikaji sejauh mana keterkaitan antara desa dan pertanian yang kemudian berperan dalam membangun perekonomian Indonesia. Karena sebagaimana kita ketahui salah satu sub sektor yang sangat strategis dalam upaya mendukung kemajuan ekonomi kita adalah sektor pertanian. Meskipun saat ini belum membuahkan hasil yang optimal namun masih sangat mungkin meningkatkan sektor pertanian agar mampu menyumbang keberhasilan ekonomi Indonesia.
Segala potensi yang diketahui dan dimiliki harus diprioritaskan dan dikembangkan untuk membangun pertanian berkelanjutan yang dapat membebaskan negeri ini dari berbagai krisis menuju kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan berkeadilan.

Sosiologi Pedesaan dan Pertanian
Sosiologi pedesaan adalah salah satu disiplin ilmu sosial yang telah lama dikenal di Indonesia. Sementara itu sosiologi pertanian baru hadir sekitar tahun 80-an. Sosiologi pertanian lahir sebagai respons terhadap perkembangan saat ini, terutama dengan semakin menipisnya perbedaan antara desa dan kota. Sosiologi pedesaan lebih mengarah ke konteks pemukiman sedang sosiologi pertanian lebih mengarah ke konteks ekonomi.
Perlunya mempelajari sosiologi pedesaan dan pertanian adalah karena masyarakat selalu berubah. Antara kelompok masyarakat satu dengan yang lain perubahannya berbeda-beda. Mengikuti kecenderungan ini, sosiologi berperan penting sebagai tameng yang dapat mencegah munculnya kesulitan atau hambatan bagi perilaku pertanian masyarakat desa.
Hambatan-hambatan yang muncul pada umunya adalah karena pertanian dilakukan hanya secara tradisional, secara partial dan tidak terintegrasi dengan sektor-sektor lainnya. Selanjutnya muncul permasalahan dalam pengembangan pertanian di semua wilayah yang belum menerapkan spesifikasi komoditas berdasarkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing wilayah, belum memikirkan sistem koleksi distribusi yang memudahkan kelancaran pemasaran dan fasilitas sarana produksi, konversi lahan yang tidak terbendung, dan pengembangan pertanian selama ini kurang mempertimbangkan kompetisi antar wilayah yang menghasilkan komoditas yang sama sehingga petani merupakan pihak yang dirugikan terutama disaat panen.
Salah satu alasan mengapa kajian sosiologi pertanian dan pedesaan menjadi penting adalah kenyataan bahwa saat ini sektor pertanian hampir menjadi tidak favorit lagi. Padahal di masa-masa sebelumnya pertanian merupakan suatu fenomena yang begitu megah dibangun dalam masyarakat di negara kita. Hal ini bisa terjadi karena pada jaman dulu hanya ada sarjana yang menjadi insinyur pertanian dan sarjana kedokteran. Kedua hal tersebut telah merebut perhatian masyarakat secara besar-besaran. Seiring berkembangnya teknologi dan tingkat kecerdasan manusia yang didasarkan pada kebutuhan manusia yang terus meningkat, tak terbatas, dan mendesak, maka muncullah berbagai bidang ilmu baru. Yang pada akhirnya menjamur dan dengan cepat diminati masyarakat. Ada juga fenomena unik dalam sistem pertanian desa yaitu “dipaksa – terpaksa – biasa”. Ungkapan itu ditujukan pada para petani desa. Maksudnya adalah pada jaman dahulu kebanyakan petani desa melakukan pekerjaan bercocok tanam karena dipaksa, bisa oleh keadaan atau warisan leluhur. Kemudian kegiatan tersebut dilakukan juga karena alasan yang mendesak sehingga menjadi sebuah keterpaksaan. Dari situ akhirnya kegiatan bercocok tanam dan menjadi petani diaplikasikan sebagai kebiasaan masyarakat desa. Hal-hal semacam itu dapat menjadi suatu acuan yang berguna untuk memperdalam pengetahuan tentang sosiologi pertanian dan pedesaan guna memunculkan pemikiran-pemikiran baru tentang sektor pertanian yang berperan penting bagi perekonomian nasional. Ini membuktikan bahwa aspek sosiologi juga mendukung upaya memajukan sektor pertanian demi peningkatan perekonomian.

Pendominasi Sistem Ekonomi Desa
Sistem pertanian bagi masyarakat desa merupakan cara bagaimana mereka bisa hidup yang sangat vital artinya bagi kehidupan mereka. Bagi masyarakat desa semacam itu, sistem pertanian identik dengan sistem perekonomian mereka yang diartikan sebagai pemenuh kebutuhan manusia. Terciptanya sistem ekonomi yang tidak lepas dari sistem pertanian tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor penting yaitu keluarga, tanah, dan pasar.
1. Faktor Keluarga
Keluarga memiliki pengaruh yang sangat determinan bagi masyarakat desa pertanian. Keluarga merupakan unit swasembada yaitu mewujudkan suatu unit yang mandiri dapat menghidupi keluarga itu sendiri melalui kegiatan pertanian. Fungsi keluarga sebagai unit ekonomi/produksi dapat dilihat dalam keluarga Jawa tradisional. Dalam tipe keluarga ini, para suami mengerjakan sejumlah kegiatan membuat persemaian bibit, mengolah lahan pertanian hingga siap tanam, menyiangi lahan, mengangkut hasil panen, dan sebagainya. Para istri mengerjakan kegiatan seperti mengirim makan kepada mereka yang sedang mengolah sawah. Sedangkan anak-anak sesuai dengan jenis kelamin, usia, dan kemampuannya, ikut membantu rangkaian kegiatan tersebut. Proses ini berbeda dengan kehidupan keluarga kota, yang kalaupun seluruh anggota keluarga melakukan pekerjaan sebagai mata pencaharian namun tidak sebagai satu unit kerja.
2. Faktor Tanah
Tanah juga merupakan faktor determinan terhadap karakteristik sistem ekonomi masyarakat desa yang penting bagi petani. Dalam hal ini perlu diperhitungkan adanya dua karakteristik pemilikan lahan yang berpengaruh khusus terhadap sistem pertanian/ekonomi. Cakupannya adalah luas-sempitnya pemilikan lahan. Pemilikan lahan yang sempit akan cenderung pada sistem pertanian yang intensif. Contohnya adalah pertanian sawah di Jawa. Sebaliknya pemilikan tanah yang luas akan cenderung pada sistem pertanian ekstensifikasi. Contohnya adalah perkebunan di luar Jawa.
3. Faktor Pasar
Pengertian pasar secara umum adalah tempat terjadinya transaksi jual-beli. Pasar merupakan faktor yang sangat mempengaruhi sistem ekonomi/pertanian. Kegiatan pertanian baru akan berarti bila petani menuai hasil dan mampu menukarkannya sebagai pemenuh berbagai kebutuhan hidupnya. Pasarlah yang menjadi sarana pertukaran-pertukaran ini. Bila tidak ada pasar, mungkin para petani hanya akan menjadi petani pasif karena bercocok tanam hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Dengan adanya pasar para petani juga dapat memperluas hubungan-hubungan dengan kelompok petani lainnya. Hubungan-hubungan itu nantinya akan menimbulkan efek yang bersifat ekonomik, sosial, dan kultural.

Hubungan Antara Sistem Pertanian, Ekonomi, dan Sosial
Terdapat hubungan timbal balik antara sistem ekonomi dan sistem sosial yang dipilah menjadi dua jalur pengaruh, yaitu pengaruh sistem ekonomi terhadap sistem sosial dan pemgaruh sistem sosial terhadap sistem ekonomi. Karena yang ditekankan dalam kajian ini adalah desa pertanian, maka sistem ekonomi dalam hal ini umumnya identik dengan sistem pertanian.
Pada intinya, pengaruh sistem ekonomi/pertanian terhadap sistem sosial berkaitan erat dengan faktor teknologi dan sistem ekonomi kapitalisme. Pada masyarakat petani di desa yang belum menggunakan teknologi modern dalam sistem pertanian mereka dan juga belum menggunakan uang dalam sistem perekonomian mereka, maka dalam kehidupan sosial mereka akan dicirikan oleh hubungan-hubungan yang akrab, selalu bersifat informal, bebas, dan santai. Kerukunan di antara mereka terjalin dengan kuat. Sebab, ketidakhadiran teknologi modern membuat mereka terbiasa saling tolong-menolong misalnya dengan jalan barter dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Bagaimana sistem sosial mempengaruhi sistem ekonomi/pertanian? Bila petani menyikapi pertanian sebagai way of life, itu artinya mereka menggeluti pertanian bukan sekedar sebagai mata pencaharian melainkan sebagai wujud totalitas kehidupan mereka. Inti dari pola kebudayaan petani bersahaja atau peasan adalah subsistensi dan tradisionalisme. Susistensi dan tradisionalisme inilah yang sering dituding sebagai faktor penghambat terlaksananya proses modernisasi pertanian di kalangan masyarakat desa. Komersialisasi sulit dikembangan dalam masyarakat desa semacam ini, karena mereka dalam berinteraksi satu sama lain sudah terbiasa menggunakan rasionalitas sosial.

Respons Sosiologi Pertanian dan Pedesaan
Indonesia merupakan negara yang terbilang memiliki potensi lahan dan sumberdaya pertanian yang melimpah. Potensi ini harus kita syukuri bersama dan sebagai wujud rasa syukur kita sudah seharusnya potensi yang besar ini diperlakukan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Namun demikian tantangan yang dihadapi dalam pembangunan perekonomian kedepan sangat besar, terutama berkaitan dengan kesiapan SDM, promosi dan dukungan prasarana pengembangan sektor pertanian. Peninjauan sektor ekonomi perlu ditingkatkan untuk mengidentifikasi sejauh mana masyarakat Indonesia mampu membuat perubahan yang labih baik untuk mencapai kemakmuran.
Aspek sosiologi merupakan salah satu kajian yang akan sangat bermanfaat bila dikembangkan dan diterapkan. Kemajuan ekonomi nasional tidak bisa hanya dengan mendorong sektor pertanian tetapi juga harus menghubungkan dengan keadaan sosial masyarakat. Pemahaman nilai sosiologi pertanian dan pedesaan dapat membantu masyarakat untuk lebih mengenal bagaimana suasana sebenarnya yang ada di masyarakat desa. Sehingga interaksi sosial yang akan berlangsung dapat dikendalikan. Tujuannya adalah menghindarkan terjadinya hambatan yang dapat menurunkan kegiatan pertanian masyarakat desa. Untuk itu diperlukan langkah bersama antara pemerintah, pengusaha pertanian, lembaga terkait dan masyarakat. Upaya terobosan perlu dirancang untuk lebih meningkatkan kinerja dan peran sektor pertanian. Diharapkan upaya-upaya tersebut memunculkan strategi cerdas yang berkelanjutan dan menjunjung masyarakat desa sebagai subyek penting dalam pertanian Indonesia.

Cerpen : Sisa Perjalanan Nenek

Malam ini aku tidur larut sekali gara-gara memikirkan kerongkonganku sendiri. Tadi siang aku menyaksikan sesuatu yang langka terjadi di rumah ini. Saat itu aku asyik nonton TV sambil tidur-tiduran di kasur tipis di ruang tengah. Saat itu pula nenek mondar-mandir dari kamar ke halaman. Seperti biasa, hobi nenek adalah memetik bunga-bunga melati yang sudah mekar lalu menyimpannya sebagai hiasan di meja kamar. Terkadang bila mawar di halaman bermekaran nenek juga memetiknya kemudian meletakannya dalam gelas berisi air. Sudah dua kali nenek keluar masuk dan pada saat nenek masuk untuk ketiga kalinya, terjadilah yang harus terjadi. Nenek tergesa-gesa masuk dan berjalan cepat dari ruang tamu menuju kamar mandi. Sebuah melati terjatuh bersama sebuah benda asing. Ekor mataku menangkap dua benda yang jatuh bersamaan itu. Aku cuek dan melanjutkan nonton TV sampai nyaris ketiduran.
Rumah tak pernah ramai seperti hari-hari sebelumnya. Hanya suara TV yang mengisi keheningan ruang tengah. Sepertinya nenek di kamar dan tidak keluar lagi. Ekor mataku menangkap lagi benda di seberang karpet yang jatuh tadi dan seketika aku terhenyak. Ingin berteriak tapi hati membisu, mau mengumpat bibir tak kuasa membuka. Oh...apa itu? Aku melihat yang tak ingin kulihat dan tak seharusnya kulihat. Benda itu membuatku senewen. Segera kupungut melati itu dan kusatukan dengan melati-melati lain di keranjang kecil yang ada di meja kamar. Kulihat nenek tidur pulas dengan nafas agak berat.
Hari ini aku diliputi dilema menggelikan antara mau dan tidak mau, antara perasaan bersalah dan geli. Astaga, apa-apaan aku ini sampai mendiamkan hal sepele yang bisa menyusahkan orang lain. Sialnya lagi tidak ada seorang pun yang bisa diajak bicara. Jadilah aku kelimpungan sendiri di ruang tengah. Berusaha melupakan tapi semakin memikirkan karena benda itu selalu tampak. Kecil tapi tengil. Aku benci harus melihatnya. Seandainya aku tak pernah melihatnya. Tentu tak perlu bergelisah hati serta bimbang tanpa tindakan seperti ini.
Aku harus bagaimana? Memungut benda itu lalu membuangnya? Memelototinya dan berharap benda itu lenyap dengan sendirinya? Atau harus kupanggil nenek dan mengatakan benda itu tadi jatuh dan meminta nenek mengambilnya? Betapa tidak sopannya aku kalau begitu.
Satu menit yang kulalui terasa selama satu jam. Aku terjebak dalam kebingungan yang tidak jelas. Entah jijik, takut, malas atau risih, aku tak sanggup bertindak walau niat sedikit terbersit. Kuputuskan diam sampai ibuku pulang. Mungkin ibu satu-satunya orang yang dengan tulus akan menyelesaikan masalah ini. Karena ibu yang lebih mengenal nenek dan aku... haruskah disebut pecundang... atau kurang ajar....
Syukurlah ibu pulang, aku tersenyum dalam hati menanti ibu melihat benda itu tapi tak terjadi. Lama kutunggu tak juga ada yang menyelesaikannya. Ibu masih sibuk menyiapkan makan siang. Aduh, sampai kapan aku dirundung cemas ini. Ibu...cepat lihatlah! Lakukan sesuatu, Bu! Aku berteriak-teriak dalam hati.
Siang mendung membuatku segera terlelap. Aku sempat melupakan benda itu. Hatiku pun lega, aku bisa benar-benar tersenyum. Karena benda kecil yang menggelisahkan itu telah raib dari seberang karpet. Ooh...lega...lega... Aku lega... Pasti ibu yang membuang kotoran nenek yang jatuh ke lantai saat nenek berjalan tergesa-gesa ke kamar mandi.
”Nenek sakit perut tadi........” Kata ibu tiba-tiba. Aku terpingkal-pingkal dalam hati tapi hanya berani tersenyumkecil menandakan aku terkejut dengan cerita ibu. Hehehe…


Karangkates, 19 Juli 2007

Cerpen : Hati Yang Selamat dan Tidak

Kata siapa orang miskin dilarang sakit. Justru orang miskin harus sakit. Kalau bisa sakit keras yang sampai harus rawat inap di ICU. Seperti Mijil, bocah sepuluh tahun yang terpaksa dilarikan ke UGD karena tiba-tiba muntah darah dan pingsan. Orang-orang mengira bocah itu demam berdarah., mulanya Samadi, bapaknya, hendak membopongnya ke puskesmas yang hanya bejarak lima belas meter dari pondok kecil alias gubuk mereka.
Siang itu, matahari yang terik mendadak raib, langit bersemu mendung agak sejuk. Heny tergopoh-gopoh menenteng tas dan peralatan kerjanya ke rumah Samadi.
“Dimana Mijil?” Teriaknya tak tahu aturan. Tidak ada yang menjawab. Heny menelusuri tiap ruangan dalam satu menit dan keluar runah dalam keadaan gelisah.
“Dibawa ke Puskesmas, Bu!” Teriak Purnomo, tetangga seberang rumah. Ia melongo menatap Heny berlari cepat meninggalkan rumah itu. Kepala menggeleng-geleng disertai senyum nakal mengagumi kecantikan bidan yang berdedikasi tinggi itu. Sejak datang ke kampungnya, Purnomo tidak henti-hentinya menaruh pehatian khusus pada Heny. Tapi dia hanyalah pria yang melajang sampai tua dan tidak punya apa-apa untuk menjamin kebahagiaan hidup. Purnomo masih menumpang di rumah orang tua, tidak mau bekerja karena malas, suka melecehkan gadis-gadis bahkan ibu-ibu di kampungnya, hobinya menyombongkan harta orang tua tanpa malu sedikit pun. Ia bisa saja memikat wanita dengan tampangnya yang cukup enak dilihat dan harta orang tuanya yang terkenal paling melimpah di kampung, tapi naasnya ia selalu menjadi celaan para wanita karena kebodohan dan kemalasannya.

Setiba di puskesmas Heny langsung bertemu Dokter Sugeng yang baru saja menangani Mijil.
“Tidak bisa di sini, haus dibawa ke rumah sakit. Dia…”
“Saya lihat dia dulu.” Heby bergegas masuk kamar.
“kondisi Mijil ini sedang parah-parahnya.” Dokter Dahlia menjelaskan.
“Tunggu apa lagi. Segera dibawa ke rumah sakit!” Heny setengah memerintah. Dokter Sugeng, Dokter Dahlia, dan dua orang perawat saling berpandangan. Tampaknya ada hal serupa yang mereka pikirkan. Tiba-tiba Dokter Dahlia menarik tangan Heny dan berbisik, “ Dilarang oleh Samadi. Sebelum kamu datang Mijil hendak dirujuk ke rumah sakit. Bapaknya berkelit soal biaya sehingga kami belum berani memutuskan.”
“Segera bawa Mijil ke rumah sakit. Saya yang bicara dengan bapaknya.” Heny berkata pelan namun nada tegasnya membuat mereka semua bergegas menurut.
Malam harinya Samadi tidur di rumah sakit, bergantian dengan istrinya, Ina. Pukul sepuluh kurang lima menit, Heny membuka pintu kamar tempat Mijil dirawat. Samadi terkejut serta tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.
“Bu, saya tidak mampu membiayai…”
“Tidak ada biaya yang perlu sampeyan tanggung. Ini tanggung jawab kami sebagai pengabdi kesehatan masyarakat, juga sebagai saudara sampeyan.” Pernyataan Heny tanpa diduga membuat Samadi menangis. Tapi Heny tak mau berdebat lagi keika Samadi mengeluh karena ia terlalu sering merepotkan Heny.
Lagi-lagi tanpa diduga keadaan Mijil bertambah kitis dan ruang ICU segera dibuka untuknya. Samadi terus memohon pada Tuhannya agar menyembuhkan Mijil, sebab ia tak tahan terus mendapat bantuan dari Heny. Sebentar kemudian sudah bekumpul semua anggota keluarga Mijil. Ina datang bersama dua adik kembar Mijil yang berusia empat tahun. Keluarga itu terus membisikkan doa pada Sang Khalik. Heny segera menyingkir dari kerumunan itu karena menerima telepon dari rekannya.
“Saya tidak bisa pulang begitu saja di saat kondisi anak itu sangat memprihatinkan. Bukan berarti apa-apa, tapi keluarganya butuh dukungan moral.” Heny mengakhiri telepon. Dia duduk di deretan bangku yang agak jauh dari ruang ICU, ia mengamati keprihatinan yang diresapi keluarga Mijil.
“Anda mengagumkan, seorang bidan baru yang rela membuang waktunya untuk mereka yang bukan siapa-siapa.” Dokter Sugeng tiba-tiba duduk di sebelahnya tapi Heny tidak terkejut karena ia sudah biasa mendengar keangkuhan dokter yang statusnya tidak jelas itu. Bukan rahasia lagi kalau ia naksir berat pada Heny, padahal di KTPnya tertera jelas bahwa ia telah menikah. Dari tampangnya juga bisa dibaca kalau ia telah memiliki anak yang pasti sudah besar-besar.
“Saya juga tidak mengira kalau anda mau membuang-buang bensin untuk pergi ke sini.” Heny menjawab sekenanya.
“Untuk tujuan yang jelas saya rela mengorbankan semua yang saya punya.” Perkataan dengan arah menjurus mulai ia lancarkan.
“Begitu juga saya.”
“Membiayai pengobatan Mijil itukah yang anda maksud jelas?”
“Lebih dari jelas. Ini sangat menguntungkan.” Sebelum lawan bicaranya menyanggah lagi Heny segera berdiri dan berjalan pelan menuju keluarga Mijil yang dirundung kecemasan.
“Mohon maaf, saya pamit pulang. Besok pagi setelah dari Puskesmas saya kembali dan saya harap Mijil tidak sendirian. Meskipun belum sadar, mijil akan merasa tenang kalau keluarganya menemani. Saya khawatir kalau saat sadar ia tidak melihat keluarganya, bisa berdampak terhadap psikologisnya. Seorang anak kecil akan mudah tertekan dan merasa takut kalau di saat sakit ia sendirian.” Heny berpamitan kemudian Ina memeluknya sambil menangis sesenggukan tanpa sungkan.
“Kamu tidak pernah berubah Heny. Kamu tetap sahabatku yang tulus dan suka menolong.” Ina mulai terisak.
“Sudahlah, In. Kamu harus tegar.”

Sebelum Dokter Sugeng sempat menawari untuk mengantar pulang Heny segera berjalan cepat dan menyetir mobilnya ke rumah sakit lain. Setengah jam kemudian ia sudah berdiri di samping ranjang Maulia. Ia terus menggenggam tangan gadis lima belas tahun itu. Mungkin karena terlalu lelah ia tidak menyadari ayam telah berkokok dan subuh telah berganti pagi. Heny tidak menyadari pula bahwa tangan Maulia telah membeku. Ia mengira dinginnya pagi menguasai tubuh Maulia sehingga perlahan ia menyelimuti gadis cantik kesayangannya. Tergesa-gesa Heny mengambil wudhu dan melaksanakan sholat di musholla. Sekembalinya dari musholla Heny tak bertumpu lagi. Pertahanannya roboh sekaligus. Putri tunggalnya telah meninggalkannya dengan sangat tenang. Heny tak henti-hentinya membelai wajah Maulia yang sedingin jemarinya yang membeku sejak subuh tiba. Pikirannya sesekali menerawang saat Maulia kecilnya sering mengeluh kesakitan tapi tidak tahu dimana letak sakitnya. Karena buah hatinya itu sangat ceria dan penuh semangat, ia mengira hanya rasa sakit yang tak berarti. Namun penyesalannya membludak saat Maulia pingsan di sekolah dan dokter rumah sakit mengidentifikasi putrinya terkena Cholilitas atau batu empedu dengan tubuh yang mulai menjadi kuning.

Masih dengan suasana duka yang terasa pahit Heny melantunkan beberapa bait doa untuk putri tercintanya sebelum batu nisan ditancapkan. Sekuat tenaga Heny menahan air matanya. Ia tahu Maulia paling tidak suka melihatnya menangis. Semenjak dirawat di rumah sakit Maulia justru menegarkannya agar jangan sampai menangisi dirinya dalam keadaan apapun. Ia ingin ibunya selalu tersenyum dan tegar agar dirinya lebih semangat. Bila Maulia terlelap, saat itulah Heny menangis tanpa suara, bukan menangis sedih atas cobaan itu tapi menangis haru bahagia karena ia telah diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk membesarkan gadis sehebat Maulia.
Tanpa mengurangi perasaan dukanya Heny segera pegi ke bank untuk mencairkan tabungannya. Siang ini ia akan melunasi biaya operasi Mijil. Baru saja Dokter Mirna meneleponnya dan mengabarkan bahwa Mijil menderita Sirisis Hepatis. Heparnya mengkerut dan mengakibatkan ketahanan tubuhnya sangat lemah. Heny mengingat enam bulan lalu Mijil terserang hepatitis dan itu membuat jiwanya nyaris terancam. Mungkin penyakitnya waktu itu yang menyebabkan heparnya memburuk saat ini.
Heny tidak bisa menunggu saat operasi Mijil dilaksanakan. Ia tidak bisa melimpahkan tanggung jawab di Puskesmas pada orang lain, sebab ia mengakui tenaga ahli di sana kurang. Adapun dokter berpengalaman seperti Dokter Sugeng tidak mempunyai loyalitas di lingkungan kampung yang baru sebulan menjadi tempat tingglanya itu.
Sampai di Puskesmas Heny disambut banyak orang yang mengucapkan turut berbela sungkawa. Ia menanggapi dengan tabah dan tak mau terpengaruh air matanya, ia minta semua rekannya kembali bertugas. Dokter Sugeng belum juga beralih dari sisinya. Bahkan ia mengikuti sampai Heny masuk ke ruangannya.
“Tolong, jangan membuat saya kesal dengan ocehan anda.” Akhirnya Heny naik pitam. “Kalau saya ingin, terlalu mudah bagi saya untuk memindahkan anda dari Puskesmas ini.” Suara Heny melemah tapi menegaskan keresahannya. Ia tidak ingin lagi mendengar ajakan menikah dari pria sepeti itu.
“Anda jangan munafik. Sekarang anda sendirian. Suami dan putri anda telah meninggalkan anda. Tentunya anda membutuhkan perhatian…”
“Cukup! Keluarlah sekarang dari ruangan saya!” Heny berbalik lalu sibuk dengan loker-loker di ujung ruangannya. Ia merasa berhak menentukan. Tidak hanya dirinya yang terganggu dengan Dokter Sugeng, tapi semua orang. Besok ia tidak akan mendengar lagi laporan buruk dari pasien atau para rekannya di Puskesmas itu tentang kesemena-menaan Dokter Sugeng dalam menangani pasien.

“Ria, tolong sampaikan pada Dokter Sugeng, saya tunggu di ruangan secepatnya.” Mendengar nama itu Ria tampak malas tapi ia segera menjalankan amanatnya.
“Akhirnya anda berubah pikiran terhadap saya. Sudah saya duga, anda tidak mungkin menolak kebahagiaan yang saya tawarkan di depan anda. Tidak disangka secepat ini…” Baru masuk ruangan Dokter Sugeng sudah berceloteh.
“Saya memang sudah lama meninbang hal ini.” Mendengar perkataan Heny yang seperti itu Dokter Sugeng tersenyum lebar. Kemudian senyumnya itu menjadi cemberut setelah membaca surat pemindahan kerja yang disodorkan Heny.
“Anda tidak berhak melakukan ini! Anda hanya bidan di sini!” Protesnya segera.
“Kenapa tidak?”
“Saya akan menemui Ibu Arifiani, kepala Puskesmas, baru saya akan menerima pemindahan ini.”
“Anda sedang menemui orang yang baru anda sebut namanya itu.”
“Jangan bercanda, Heny!” Sergah Dokter Sugeng.
“Serius. Orang yang dihadapan anda inilah yang bernama Arifiani H. Sumitro.” Heny tersenyum menunjukkan tanda pengenalnya yang hampir tidak pernah ia pakai sejak kedatangan Dokter Sugeng. “Aifiani Heny Sumitro.” Tegasnya lagi.
Dengan memanggul gengsinya yang melebihi berat Gunung Jayawijaya, Dokter Sugeng meninggalkan ruangan Heny. Ia terus mengumpat dalam hati setelah para perawat mengiyakan bahwa Heny memang pendiri dan pemilik Puskesmas itu.


Karangkates, 10 Juli 2007

Cerpen : Aku dan Si Pencopet Sama Saja

Tanpa terasa waktu liburanku berakhir. Berat hati kuraih barang-barangku dan dengan segera ayah mengantarku sampai terminal bus. Aku banyak mengeluh selama dalam perjalanan, tapi hanya dalam hati. Tidak akan tega aku memperdengarkan keluhanku apalagi yang sensitive terhadap perasaan ayah. Perjalanan panjang, sekitar enam atau tujuh jam, aku telah menyiapkan diri untuk semuanya. Begitu pula ibu dan kakak perempuanku yang begitu cerewetnya menasehatiku. Lucu juga, padahal ibu dan mbak Kara tidak pernah bepergian keluar kota, tapi petuah mereka selalu tepat dan benar. Bagaimana aku harus sangat waspada dan siaga terhadap bahay apapun yang mungkin mengancamku saat perjalanan nanti. Mungkin itu yang membuat seorang wanita harus selalu dihormati, mereka hampir selalu mampu merasakan hal-hal yang belum dirasakan para anak atau suami mereka. Oh tidak, aku jadi merasa berat meninggalkan rumah. Setelah hidup di rantau, rumah menjadi satu tujuan hidup yang sangat memberatkan hati untuk ditinggalkan.
Ayah menyuruhku naik bus ber-AC, demi keamanan dan kenyamananku. Diam-diam setelah ayah pergi aku menaiki bus non-AC yang hampir penuh, ini demi menghemat pengeluaranku. Bukan maksudku membohongi ayah, inilah usahaku untuk menjaga kelangsungan hidupku di perantauan nanti. Tarif bus ber-AC dua kali lipat dari bus non-AC dan aku sangat menyayangkannya. Kenyamanan bukan prioritas utama, aku butuh hemat meski tersendat. Tak apalah naik bus jelek dan bau, yang penting sampai di tujuan dan masih punya uang lebih yang bisa ditabung. Hidup melarat di rantau itu sangat menggoda iman dan kalau tidak kuat hati maka prinsip yang selama ini kokoh berjalan bisa lumer dan menyesal pada akhirnya. Aku mendapat satu-satunya kursi kosong, nomor dua dari belakang. Tas berisi pakaian-pakaian dan beberapa buku kuliah kuletakkan di bagasi sempit di atas kepalaku. Aku memangku tas kecilku yang isinya tidak seberapa. Kalau kubuka orang–orang pasti mengomel karena bau petai dari dalam tasku akan menambah keapekan bau di dalam bus itu.
Perjalanan yang sudah lama tidak kulakukan. Kini aku membayangkan betapa kotornya kamar kosku setelah lebih dari sebulan kutinggal mudik. Aku merindukan teman-teman satu kosku. Setelah ini kami akan bertempur lagi melawan garangnya atmosfer anak kos di kota besar. Dalam hati aku mulai mendaftar apa saja yang akan kulakukan sesampainya di kos nanti. Pertama, aku harus membayar uang lima puluh ribu yang kupinjam dari Koko sebelum mudik. Bersyukurlah aku karena Koko anak orang berada yang tidak pelit dan tidak sombong. Waktu itu aku benar-benar kehabisan uang dan tidak ada sisa uang lagi untuk mudik. Dengan senang hati Koko meminjamiku uang meski baru kubayar setelah mudik dari desa. Kedua, aku juga harus melunasi tunggakan uang kos. Saat itu aku sedang butuh banyak uang untuk bolak-balik ke rental komputer demi tugas-tugas kuliah yang tak pernah berhenti menhujani dompetku. Apalagi aku tidak bisa memiliki computer pribadi, jadi sudah takdir para pemilik rental computer untuk menerima rejeki mereka dari kantong mahasiswa berkantong pas-pasan seperti aku. Hal itu membuatku terpaksa membayar hanya sebagian uang kos, sisanya seratus ribu baru kubayar setelah mudik nanti. Untunglah ibu kos memberikan kesempatan langka untuk mencicil. Ketiga, lagi-lagi aku harus menyelesaikan pembayaran katering langgananku. Sebenarnya uang katering telah dibayar pamanku yang kebetulan kenal baik dengan pemilik usaha katering itu. Aku merasa sangat tidak enak hati sebab paman Bahri itu hanya saudara jauh ibuku, tapi beliau sangat baik hati dan seringkali mengunjungiku. Sebelum paman Bahri membayar uang katering, aku telah meminta Bu Sula, pemilik katering, untuk mengatakan pada paman bahwa harga kateringku dua puluih ribu saja tiap minggunya, bukan empat puluh ribu. Ternyata paman membayarnya untuk satu bulan saat terakhir aku berada di kos. Yang membuatku lebih sungkan lagi, ia selalu membawa makanan atau barang-barang yang memang berguna untuk kuliahku. Aku pernah curiga kalau paman bahri mempunyai maksud tertentu. Sebab setiap datang ia selalu bersama seorang gadis belia yang mungkin dua tahun lebih muda dariku. Gadis itu tidak banyak bicara, tetapi orangtuanya selalu menceritakan tetang dia di depanku tanpa malu-malu, kemudian ditambah cerita-cerita yang ada saja dan selalu bisa berhubungan denganku. Bukannya aku GR, tapi jelas sekali kalau keluarga itu baik padaku karena dua hal : tulus sebagai saudara dan ingin menjodohkan putri mereka denganku. Hihihi, aku terlalu PD. Tapi biarlah. Meskipun gadis itu sering membuat hatiku gelisah, aku belum sempat berpikir lebih jauh tentangnya. Kembali masalah hutang, jadi total hutangku delapan puluh ribu untuk sisa uang katering. Semuanya kalau ditotal jadi dus ratus tiga puluh ribu. Tadi pagi ayah memberiku empat ratus ribu seprti biasa untuk hidupku selama sebulan. Kemudian aku mendapat tambahan seratus ribu dari Mas Mono, suami kakak perempuanku. Tabunganku sendiri seratus lima puluh ribu. Berarti sisa uangku hanya dua puluh ribu kalau hutangku lunas. Aku mulai membayangkan penyesalanku karena novel yang kuimpikan jadi milikku lagi-lagi gagal terbeli.
Setelah ashar perjalanan panjang berakhir. Aku menunggu semua penumpang turun baru aku berdiri dan meraih tas di atasku. Entah perasaan apa yang kurasakan, aku lunglai tanpa arti mengetahui tas itu tak ada. Berkali-kali kucoba menyangkal tapi tak dapat diingkari lagi, aku kecopetan!!! Sopir dan kondektur bus berlagak tak tahu apa-apa dengan sok menanyaiku seolah mereka mencemaskanku. Aku tahu betul mereka hanya menutupi keacuhan mereka dengan sok iba padaku. Mungkin juga mereka telah mengetahui peristiwa pencopetan itu tapi tidak berani berbuat apa-apa karena biasanya orang-orang seperti mereka mau tidak mau harus memaklumi kelakuan para penjahat jalanan, asal mereka tidak saling mengganggu maka semua dapat berjalan dengan mulus.
Baiklah, aku menyerah, aku pasrah. Aku berusaha keras menerima ini semua sebagai takdir, takdir yang cukup menyenangkan, sehingga aku bisa mengambil pelajaran di baliknya. Agar aku tidak lagi menghitung daftar hutangku saat di dalam bus dimana para pencopet selalu tahu sasaran empuk ada di depan mata. Turun dari bus aku berjalan pelan menuju deretan bus kota. Masih banyak kursi kosong dan aku memilih duduk di kursi paling depan tepat di belakang sopir. Aku tidak mau lagi mengkalkulasi kerugianku setelah kehilangan tas. Kudengarkan lagu dangdut yang diputar sopir bus dengan seksama dan sangat menikmati. Sekali waktu menyenangkan juga mendengarkan lagu dangdut.
Si pencopet sudah jauh entah di mana. Kali ini hatinya berbunga-bunga setelah sekian kali berhasil mencopet sekarang berhasil lagi. Dipikirannya terbayang isi tas mahasiswa pelamun itu tentu akan sangat menguntungkan. Biasanya anak kos yang habis mudik akan membawa harta yang banyak untuk hidup merantau lagi. Si pencopet tidaklah kumuh atau sangar. Wajahnya kalem, tampak ramah, pakaiannya rapi dan tentunya ia bersepatu laiknya pegawai kantoran. Tiba-tiba perut kosongnya berontak dan ribut. Tanpa pikir panjang ia melangkah dengan mantap ke sebuah tempat yang diyakininya dapat membuat perutnya buncit karena kenyang. Kini ia telah tersenyum puas menatap menu hidangan di hadapannya. Dengan sedikit berbangga hati ia menyempatkan diri makan di sebuah restoran menengah ke atas. Sebuah kegiatan yang luar biasa dan tidak biasa untuk pencopet bergaya elegan seperti dia. Mari kita beri tepuk tangan meriah untuk kelihaian si pencopet.
”Sebelum disetorkan pada bos, alangkah asyiknya kalau hasil kerjaku ini kucicipi lebih dulu. Toh tidak akan ketahuan.” Ia membisiki sepotong steak di ujung garpunya. Kenikmatan yang diresapi dengan sungguh-sungguh membuatnya lupa bahwa isi tas itu belum dilihatnya sama sekali. Kemudian dengan tenang dibukanya tas itu dan ia menemukan beberapa buku di bagian atas. Di bawahnya terdapat beberapa pakaian dan sebuah handuk, semuanya terlihat tak berharga karena warnanya pun mulai pudar. Ada beberapa sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi dan sabun cuci. Di saku depan tas itu tertata rapi dua pak jepit jemuran dan sebuah sisir. Semua kantung usai dijelajahi dan ia tak berhasil mengulas senyum, si pencopet kian gelisah tanpa tujuan. Sekali lagi diperiksanya tas itu dan tak juga ditemukannya sepeser pun. Dengan hati kacau ia menjaga agar wajahnya tetap tenang. Ia meminum cappucino dinginnya perlahan dan semakin pelahan sampai kerongkongannya menelan kehampaan. Ia tak mau menjadi bulan-bulanan satpam yang berjaga di pintu karena tak mampu membayar. Setelah agak tenang ia mengingat jumlah uang yang ada di kantong celana necisnya. Teringatlah ia bahwa di dompetnya ada lima puluh ribu yang pasti pas untuk membayar menu pesanannya. Dengan lega hati ia meraih kantong belakang celananya dan... berapa kalipun dicari dompet itu tak ada di semua kantong celana maupun kemejanya. Dalam hati diumpatnya habis-habisan orang yang mencopet dompetnya. Tangan kanannya masih berada di saku celana, ada sesuatu yang disentuhnya. Dengan cemas dikeluarkan kertas yang terlipat-lipat itu. Sepuluh ribuan! Si pencopet amat senang menemukan selembar uang tapi sedetik kenudian ia kembali tak berdaya. Selembar itu hanya cukup untuk membayar secangkir cappucino yang tak disentuhnya lagi, sebab rasanya menjadi sepahit arang dan menjengkelkan.


Karangkates, 12 Juli 2007

Cerpen : Pemberian Yang Tak Sampai

"Hari ini aku dibawain apa?" Enin menatap wajah di depannya itu lekat-lekat.
"Taa daa!" Remaja berperawakan tinggi kurus itu mengeluarkan kresek hitam dari dalam tas pinggangnya. "Ayo, makanlah."
"Terimakasih, Mas." Enin senang sekali. Dengan segera dilahapnya ayam goreng berbalut tepung yang merupakan makanan terlezat baginya.
"Mas Arno nggak makan?" Enin menawarkan.
"Sudah kenyang. Kamu makan saja, itu buat kamu semua." Laki-laki yang dipanggil Arno itu mengelus kepalanya. Tanpa banyak bicara lagi Enin melahap tiga potong paha ayam itu. Maklum saja, dua hari ini Enin belum mengisi perut sama sekali. Baru malam ini ia merasakan nikmatnya makanan pemberian Arno.
"Sudah ya, aku harus pulang. Sampai ketemu lusa. Da daa…" Arno melambaikan tangan. Meninggalkan Enin yang duduk kekenyangan di salah satu bangku alun-alun. Sambil mengelus perutnya yang kekenyangan Enin berjalan pulang. Gadis tujuh tahun yang kucel itu mempercepat langkahnya ketika dingin mulai menjalari tubuhnya, membuat kedua kakinya yang tak beralas nyaris kaku. Kedua tangannya ditekuk di dadanya. Ia menyusuri pertokoan yang masih ramai. Melalui swalayan-swalayan besar juga gedung perkantoran bertingkat.
"Dingin sekali." Enin berbisik. Ia terkejut tatkala melihat tangannya dijatuhi rintik-rintik hujan. Tetesan itu semakin deras. Enin berlari, segera berlari sampai di gang kecil yang dipenuhi manusia-manusia penjaja diri. Beberapa wanita berbaju mini tampak kebingungan berlindung dari hujan. Pria berkumis dan berwajah bongol hampir saja menggodanya, Enin semakin mempercepat larinya. Jauh dari gang yang selalu gelap itu, sampailah ia di pemukiman kumuh dimana para pemulung, pengamen atau pengemis seperti dirinya tinggal. Enin melangkah menghampiri rumah kecil yang terbuat dari gedek. Di situlah ia tinggal bersama Siti dan Amir. Enin menguak pintu reyot itu. Tampak Siti dan Amir meringkuk kedinginan di atas sebuah tikar lusuh. Rumah itu berbentuk kubus, tidak ada sekat-sekat untuk ruangan lain. Di dalamnya hanya ada sebuah tikar untuk duduk atau tidur, sebuah kompor butut yang didapat dari memulung di TPA, baju-baju lusuh yang digantung di dinding bambu dan sebuah meja kayu kecil yang jarang dipakai.
"Mbak, apa malam ini kita tidak makan lagi?" Bisik Siti. Suaranya nyaris tertahan. Bukan karena takut bicara tapi ia tidak punya tenaga untuk berbicara lebih keras lagi. Enin tersentak mendengar bisikan adiknya yang masih lima tahun itu. Enin sadar, ia sangat menyesal, mengingat apa yang baru saja dilakukannya. Ia telah benar-benar melupakan kedua adiknya yang sedang kelaparan di rumah. Begitu teganya ia menghabiskan tiga potong paha ayam tadi sendirian. Seandainya ia tidak serakah, malam ini mereka bertiga bisa menikmati makanan lezat pemberian Arno bersama-sama. Ia tertegun, merasa dirinya jahat sekali. Enin merangkul kedua adiknya, meski tidak berasal dari kandungan yang sama ia amat menyayangi Siti dan Amir yang dipertemukan dengannya di pinggiran alun-alun kota beberapa tahun silam. Enin bingung. Ia ikut menangis ketika kedua bocah itu terisak. Tiba-tiba ia teringat recehan di kantongnya. Siti dan Amir memandang hampa ketika Enin menghitung uang-uang koinnya.
"Enam ratus. Ah, biar aku belikan roti di warung Mak. Kalian tunggu ya…" Enin berlari ke warung Mak yang nyaris tidak ada pembelinya. Roti yang dibeli harganya lima ratus, Enin menyimpan sisa uangnya yang seratus ke dalam kantong celananya. Sampai di rumah Enin membagi roti itu jadi dua. Siti dan Amir heran mengapa hanya dua.
"Mbak nggak kebagian." Kata Siti.
"Mbak nggak lapar?" Tanya si bocah empat tahun, Amir.
"Buat kalian saja. Sudahlah, cepat habiskan." Siti dan Amir pun menurut. Sedikit roti itu cukup untuk membuat mereka bisa tidur setelah dua hari tidak ada makanan yang mengisi perut mereka. Enin menyelimuti keduanya dengan sehelai kain batik yang kumal dan berlubang. Sampai larut malam Enin belum juga bisa memejamkan mata. Ia masih sangat menyesal dengan keculasannya tadi. Ia berjanji, bila lusa Arno membawakan makanan lagi, ia tidak akan memakannya sendirian. Ia harus berbagi dengan Siti dan Amir.
Dua hari kemudian Enin menunggu Arno di bangku taman alun-alun. Malam semakin larut tapi yang ditunggu belum juga tiba. Enin bersabar menunggu karena ia terus teringat pada adik-adiknya yang pasti berharap kedatangannya dengan membawa makanan. Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari jarak jauh. Enin melihat seseorang berlari menghampirinya.
"Mas Arno!" Pekiknya girang. Arno memberikan sebuah kresek transparan yang di dalamnya terdapat bungkusan nasi. Arno memegang kedua bahu Enin sambil jongkok di depannya. Ia terengah-engah.
"Enin. Mulai sekarang aku nggak bisa bawain kamu makanan lagi. Aku harus pergi jauh. Kamu jaga diri ya. Ini pemberian terakhirku. Selamat tinggal." Arno pergi dengan tergesa-gesa. Sebelumnya ia menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke tangan Enin. Enin bingung dengan tingkah Arno. Matanya menerawang memandang Arno yang berlalu dari hadapannya. Ah, ia teringat pada Siti dan Amir. Ia harus segera pulang untuk memberikan nasi bungkus itu. Ia membayangkan kedua bocah itu akan bersorak gembira melihat apa yang dibawanya, mereka akan makan nasi itu dengan lahap lalu tidur dengan nyenyak. Suara ribut-ribut kembali membuyarkan lamunan Enin.
"Itu orangnya. Cepat kejar!" Dua orang laki-laki berlari dari kejauhan. Enin melihat Arno sempat menoleh dan tersenyum padanya.
"Berpencar!" Suara itu semakin dekat. Enin berbalik.
Dhuaaarr…!!! Suasana hening sejenak. Arno terkejut bukan main menyaksikan Enin roboh perlahan dengan dada tertembus peluru. Arno berlari meraih tubuh kecil yang terkulai itu. Tetes-tetes air mata membasahi wajahnya yang dingin.
"Ini. Bu…at Si…ti dan… A…mir…" Enin berusaha keras mengatakan hal itu. Arno tidak sanggup berkata lagi. Hanya air matanya yang sanggup melukiskan perasaannya saat itu. Dua orang polisi berpakaian preman menarik tangannya. Ia berontak, dipeluknya gadis sekarat itu. Dia adalah adik kandungnya yang dibuang oleh ibunya karena ayah angkatnya tahu dia anak hasil perselingkuhan ibunya. Arno menyadari tidak ada hembusan nafas lagi di hidung Enin.
"Tiidaaak!!! Seharusnya aku yang kalian tembak! Bukan dia. Bukan dia…" Arno bersimpuh di kaki salah satu polisi. "Ibu kami sama! Bapak kami sama! Kenapa dia yang dibuang. Kenapa dia yang sengsara dan sekarat..." Arno roboh tak berdaya. Ia menurut saja saat kedua polisi itu memborgol dan menggiringnya ke mobil patroli. Arno memejamkan mata. Dalam tangisnya ia tersenyum puas.
"Baguslah kaliah telah kuhabisi. Manusia-manusia biadab, tak bertanggung jawab!" Umpatnya dalam hati.


Karangkates, 25 Mei 2006

Cerpen : Drum Yang Membara

Ulung menyentuh kantong celananya untuk memastikan benda itu masih ada. Dengan yakin ia mengendap-endap di samping gedung bertingkat itu. Tanpa mengeluarkan bunyi-bunyian ia memanjat pagar samping gedung yang langsung menuju kantin. Sekarang ia sudah berdiri di depan kantin. Sekali lagi ia periksa peralatannya. Oh, rupanya ada satu barang lagi yang tertinggal di luar pagar. Cepat-cepat ia memanjat kembali dan dengan susah payah diangkutnya tas kain berisi botol-botol itu ke dalam. Ulung tersenyum puas dengan persiapannya yang matang. Dalam jangka waktu kurang dari satu jam ia berhasil menyelesaikan semuanya. Sebelum adzan subuh berkumandang Ulung sudah pulas lagi di tempat tidurnya.
Ibu membangunkan Ulung untuk sholat Subuh, Ulung keluar sebentar untuk ke kamar mandi. Bukannya sholat Ulung malah merebahkan diri di tempat tidur. Ia mengganjal kepalanya dengan kedua tangan yang ditekuk. Dalam hati ia geram mengingat kekecewaan yang diterimanya beberapa saat lalu. Saat itu ia dan teman-teman sekelasnya sedang berkumpul untuk membicarakan siapa yang akan mengisi acara gebyar seni setelah acara wisuda nanti. Seperti biasa band Andre, Iwan, Rudi dan Handoko yang terpilih. Tapi mereka bingung karena Gani pemain drum mereka mengundurkan diri dari band. Gani sedang mengalami masalah keluarga yang cukup berat sehingga ia tidak sempat lagi untuk bermain musik bersama rekan-rekannya. Band itu memutuskan akan diseleksi dari siswa-siswa di kelas itu yang bisa menggantikan posisi Gani. Ulung sudah yakin dirinya akan terpilih sebab ia telah mendapat janji dari Iwan. Ulung memberikan contekan pada saat Ujian Akhir Nasional dan sebaliknya Iwan akan memasukkan Ulung sebagai pemain drum baru di band kelas. Mereka berempat mengadakan rapat. Esoknya diputuskan bahwa Deden yang akan menjadi penabuh drum. Bukan main kecewanya hati Ulung. Ia menatap Iwan dengan wajah datar dan kesal.
"Aku sudah memberimu contekan. Apa balasanmu sekarang!" Kata Ulung bersungut-sungut. Ia berjalan pulang dan Iwan terus mengejarnya sambil berbicara.
"Maafkan aku, Lung. Aku tidak bisa memaksa mereka lagi. Kamu tahu kan Handoko ketua band, dan keputusan ini dia yang membuatnya. Andre dan Rudi juga setuju dengan Handoko. Mereka memilih Deden karena tahu bagaimana prestasi Deden di bidang itu. Maaf, Lung. Aku benar-benar..."
"Ya. Aku pun tahu. Deden baru mendapat penghargaan sebagai penabuh drum terbaik di kota ini. Dan kalian tidak akan menyia-nyiakan kehebatannya untuk mengangkat nama band kalian. Kamu pun melupakan aku begitu saja. Brengsek! Betapa menyesalnya aku kalau nanti nilai ujianmu bagus." Ulung mengumpat.
"Aku sudah mati-matian memperjuangkan kamu. Mereka malah memarahiku. Mereka tidak setuju karena belum pernah melihat permainanmu. Memang hanya aku yang selama ini mengetahui permainan drum-mu. Aku menyesal, Lung. Tolong maafkan aku."
"Aku yang lebih pantas menyesal!" Ditampiknya tangan Iwan dan ia bergegas pergi. Iwan tidak mengejarnya lagi. Ia sangat tidak enak hati tidak bisa memperjuangkan Ulung untuk bisa bergabung dengan band-nya.
Paginya orang-orang mulai ramai berkerumun di sekitar bangunan SMU yang sudah terbakar setengahnya. Pemadam kebakaran baru saja melaksanakan tugasnya. Guru-guru yang berdatangan tampak terkejut, tidak percaya, bahkan histeris. Rasanya sekolah ini baik-baik saja, bagaimana bisa tiba-tiba dibakar orang tak bertanggung jawab. Apalagi sebentar lagi akan diadakan acara wisuda dan gebyar seni. Para guru masih bertanya-tanya tentang kejadian aneh itu.
"Bagaimana bisa. Aduh... bagaimana dengan acara-acara di sekolah nanti. Ini..." Seorang guru wanita menjerit kebingungan.
"Tenang dulu, Bu. Jangan membuat keadaan jadi panas. Kita serahkan masalah ini pada pihak kepolisian." Pria di sebelahnya tampak tenang meskipun hatinya kecut.
Peristiwa pembakaran sekolah itu berhasil diusut. Ulung juga tak mengelak ketika polisi membawanya ke kantor polisi. Sementara orang tua Ulung menangis menjerit-jerit tak percaya anak bungsunya melakukan tindakan kriminal seperti itu. Kini Ulung resmi menjadi penghuni ruangan berjeruji yang dipenuhi anak-anak sebayanya. Setiap hari ibu Ulung datang ke penjara untuk menjenguk anaknya. Ia tidak sampai hati melihat putra kesayangannya mendekam di tempat menyeramkan seperti itu.
Dua hari kemudian beberapa guru sekolah Ulung datang ke rumah. Mereka mengungkapkan rasa prihatin yang amat mendalam atas peristiwa yang didalangi Ulung. Mereka amat menyesalkan Ulung bisa bertindak senekat itu. Yang mereka sayangkan adalah kenyataan bahwa Ulung adalah peraih nilai Ujian Akhir Nasional tertinggi di sekolah sekaligus di kotanya.
"Kami tidak menyimpan dendam pada anak Ibu. Bahkan kami sangat prihatin dengan keadaannya setelah mengetahui penyebab utama pembakaran itu." Kepala Sekolah menjelaskan.
"Benar. Memang salah yang dilakukannya, tapi kasihan juga kalau penyebab semua itu cuma kegagalannya menjadi pemain drum di grup band kelas. Semoga peristiwa ini adalah yang pertama dan terakhir. Serta dapat memberi pelajaran bagi kita semua untuk lebih memahami kondisi putra-putri kita dalam kegiatan belajar dan kehidupan sehari-harinya." Wali kelas Ulung juga hadir di situ.
Teman-teman Ulung merasa kasihan, takut, juga kecewa terhadap Ulung. Sebagian teman-temannya menjadi benci pada Ulung. Iwan yang paling merasa bersalah. Ia merasa memanfaatkan Ulung. Nilai ujiannya memang diluar dugaan, jelas saja karena ia mencontek juara kelas. Tapi ia telah gagal memenuhi janjinya pada Ulung dan mengakibatkan temannya itu harus menerima masa kelam dalam hidupnya di dalam sel. Belum lagi gedung sekolah yang rusak. Iwan benar-benar pusing tujuh keliling. Ulung pun telah benar-benar membencinya.
"Ulung." Sapa Iwan saat menjenguk Ulung bersama anak-anak band-nya.
"Heh! Muak aku melihatmu. Pulang sana! Tempatmu bukan disini!" Ulung menjauh dan bersikeras tidak mau bertemu lagi dengan mereka. Seperti orang yang kehilangan akal sehatnya Ulung menendang-nendang dinding sel sampai ia kesakitan sendiri.
"Aku yang memainkan drum itu! Aku yang berhak! Tidak ada yang bisa mengalahkan aku. Akulah penabuh drum terhebat itu…" Teriaknya sambil bersenandung tak karuan dan tertawa keras sampai penjaga menyuruhnya untuk tutup mulut.


Karangkates, 26 Mei 2006

Cerpen : Bersama Automatic Pipel

Aku cukup tenar di kampus sebagai pemain gitar yang handal dengan band yang sering mendapat nama terbaik dalam festival-festival musik. Tapi perlu kau ketahui bahwa aku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Kehidupan yang naik turun, kadang cukup kadang tidak. "Yang penting kalian sekolah dan bisa makan setiap hari, itu sudah bagus." Berulang kali bapak mengucapkan kalimat itu pada anak-anaknya. Perjuangan orangtua untuk membiayai pendidikan kedua kakakku saat itu sangat sulit. Kalang kabut berusaha agar keduanya bisa terus menempuh pendidikan dan seringkali aku tidak mendapat uang saku. Lha wong biaya kuliah satu orang saja sudah banyak, apalagi kakakku kembar begitu, jadi dobel. Semuanya menjadi lebih baik saat kakak-kakakku sudah bekerja, lalu mereka menikah. Sedikit-sedikit mereka membantu orangtua membiayai sekolahku. Dua tahun kemudian aku lulus SMU dan mulai bimbang menentukan kuliah. Dengan banyak pertimbangan aku memilih satu jurusan di Universitas Gadjah Mada dan satu lagi di Universitas Brawijaya. Hasil SPMB menentukan aku diterima di Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya. Aku nekat mengambil jurusan itu dan memaksa orangtuaku merelakan kepergianku ke Malang. Mereka pun ikhlas aku menempuh pendidikan di sana meskipun ibuku masih kaget dan tak percaya aku telah mengambil pilihan di kota yang menurutnya jauh itu. Ibu masih berat melepasku, tapi aku berhasil meyakinkan dirinya bahwa tujuanku semata-mata membahagiakan keluargaku. Aku ingat betapa sayangnya ibu padaku sampai-sampai ia memberikan sebuah kotak berisi perhiasan-perhiasannya. Aku tak bisa menahan air mataku ketika ibu mengatakan perhiasan itu untuk berjaga-jaga kalau aku membutuhkan biaya. Padahal yang kutahu perhiasan itu adalah milik ibu yang paling mahal kalau diuangkan. Tidak ada lagi benda mahal di rumahku saat itu bahkan sampai saat ini.
Satu tahun kulalui dengan lancar. Aku mulai menyukai kota yang cukup dingin ini. Begitu juga dengan teman-temanku. Aku mendapat kesempatan berkenalan dengan kawan-kawan musik di kampus yang sangat familiar. Merekalah yang menarikku menjadi pemain gitar band Automatic Pipel. Pendidikan dan musik kami berjalan dengan seimbang. Aku menyukai band kami, sangat suka. Mereka kawan-kawan yang mencintai musik tapi juga sangat menjunjung tinggi pendidikan. Seiring dengan kegiatan belajar kami musik pun berjalan riang dengan hasil yang membanggakan. Belum setahun berlalu kami telah menjadi pembicaraan banyak orang terutama yang menggandrungi musik. Ini semua bukan keberuntungan semata, tapi kerja keras dan doa yang tak pernah lupa kami panjatkan pada Yang Kuasa.
Kami baru selesai menggarap album indie. Kami sempat meninggalkan penggarapan itu karena ujian semester. Setelah itu semuanya kembali antusias dengan single bertajuk cinta dan sosial yang kami beri judul Keretakan Sebelah Globe. Dengan bantuan banyak pihak kami lebih mudah menyelesaikan album itu.
Sekarang aku sedang terduduk lemas di depan makam ibu, bapak, kedua kakak perempuanku, kedua kakak iparku, juga seorang keponakan laki-laki yang masih berusia satu tahun dan sedang lucu-lucunya. Mereka adalah keluarga yang paling kucintai. Namun mereka tinggal menjadi kisah termegah dalam bangunan masa laluku. Bila mereka tiada kini, tinggallah aku yang hanya sepotong tiang penyangga, hidup sendiri tanpa menyangga atau disangga apapun. Air mata ini masih menemani kepedihan hatiku. Aku sangat tak berdaya, merasa diri hampa, bagai daun yang jatuh dari pohon yang telah mati.
"Aaargh... " Aku menengadah menatap langit yang sekarang tak pernah jernih. Kenapa harus Bantul yang menderita paling parah dalam bencana gempa seminggu yang lalu, kenapa Bantul… Hatiku menjerit-jerit, histeris menyuarakan kesedihan yang panjang. Entah dimana ujungnya, semoga aku menemukannya. Pilu menyandera batinku. Bagaimana aku melanjutkan hidupku, semua yang kumiliki disini telah musnah. Terkubur dalam musibah besar ini. Aku menerawang, membayangkan betapa banyak korban yang berjatuhan setelah peristiwa gempa itu. Orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri. Tak tahu selamat atau malah tertimbun. Dan… keluargaku termasuk yang tak selamat itu.
"Kita pulang, Sa." Darma menyentuh bahuku. Aku berbalik menatap Darma, Udin, Kimu dan Ragil. Mereka tampak iba melihat wajahku pucat dan mata sembab yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Kami berjalan menuju mobil Udin. Mereka merangkulku dan terus menyemangatiku. Perjalanan kami lalui dengan lancar. Hatiku perih menatap rumah-rumah dan bangunan hancur, diluluh lantakkan gempa yang masih sering terjadi sampai saat kami kembali ke Malang. Berjam-jam mobil ini melaju dengan tenang, seiring kawan-kawanku yang terus menghiburku.
"Stooop…!!!" Kimu yang duduk di samping Udin yang sedang menyetir tiba-tiba berteriak. Untunglah Udin tidak terlalu kaget sehingga dia menepikan mobil pelan-pelan di tepi tol Surabaya.
"Koen iki ngaget-ngageti ae. Ono opo?" Tanya Darma yang sangat kaget.
"Ssst... semuanya tenang. Rungokno yo, Rek. Angkasa, Darma, Kimu, Udin, Ragil, kalian udah di Malang ta? Album indie kalian siap diluncurkan Sabtu depan. Cepat ke studio. Se...la…mat dan su…k…ses, Rek." Dengan gaya kocaknya Kimu membacakan SMS dari pak Bass, ayah Udin yang selama ini memotori gerak musik kami.
"Al…ham…du…lillaaah…" Kami saling berjabat tangan dan berangkulan. Aku juga sangat terhibur dengan hal ini. Hidupku yang baru akan berawal dari Automatic Pipel bersama rekan-rekan terbaikku. Meski tak memiliki naungan hati dari sebuah keluarga, aku telah memutuskan membangun keluarga baru untuk nantinya kujadikan tiang penopang hatiku yang pernah rapuh ini.


Karangkates, 4 Juni 2006

Cerpen : Berakhir Di Padang Duka

Andang selalu tersentak setiap kali bel pulang sekolah berbunyi. Pikirannya langsung tertuju pada ibunya di rumah yang badannya semakin kurus dirongrong penyakit. Dua bulan terakhir ini ibu Andang terserang TBC dan kondisinya terus memburuk karena keterbatasan mereka untuk berobat.
"Hei, melamun apa? Kau mau pulang tidak?" Pino mengguncang bahu Andang. Andang cuma mengangguk lalu bergegas mengikuti Pino keluar dari kelas. Setiap hari Andang dan Pino berboncengan sepeda berangkat dan pulang sekolah. Sepeda itu milik Pino tetapi mereka bergantian memakainya. Pino hidupnya lebih beruntung karena memiliki keluarga yang utuh dan cukup dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pino yang baik selalu membantu Andang dalam kondisi apapun. Pino sangat memahami kehidupan sekeras baja yang dialami Andang sejak kecil. Ketika masih kelas 3 SD, ayah Andang ikut rombongan pekerja bangunan ke Jakarta. Di sana Ayahnya menjadi kuli bangunan dan naas yang menimpa ayah Andang membuatnya menjadi seorang yatim. Ayah Andang terserang penyakit malaria dan meninggal di sana. Setelah itu ibu Andang mengambil alih jadi pencari nafkah untuk membiayai sekolahnya. Setiap pagi sampai siang ibunya jadi buruh cuci pakaian dan sore harinya berjualan goreng-gorengan dengan modal seadanya. Melihat kondisi yang seperti itu Andang tidak bisa diam saja. Ia selalu berusaha melakukan apa pun untuk meringankan beban ibunya. Ia tidak sampai hati melihat ibunya setiap hari berpanas-panas di depan penggorengan sambil menyeka peluh yang mengaliri dahi dan semakin menyimpulkan wajah tua itu. Karena itu Andang tidak ingin membuang waktunya hanya untuk bermain bila tanpa hasil. Banyak pekerjaan lain yang lebih berarti bila ia bisa mengerti jalan mana yang benar. Tak jarang ia terima tawaran mengangkuti karung beras di toko di pinggir jalan yang setiap hari ia lewati saat berangkat dan pulang sekolah. Upahnya lumayan untuk menambah modal dagang goreng-gorengan dan terkadang untuk menabung sedikit.
"Aku tidak mampir ya, ibu menyuruhku cepat pulang." Pino menurunkan Andang di depan gang kecil tak jauh dari sekolah.
"Tidak apa-apa. Hati-hati ya." Andang melambaikan tangannya dan Pino kembali mengayuh sepedanya. Dalam hati Andang benar-benar bersyukur mempunyai sahabat seperti Pino. Tiba-tiba ia teringat ibunya kembali. Ia segera berlari ke rumahnya sebab ia sangat mengkhawatirkan kondisi ibu yang tak kunjung sehat.
"Assalamu'alaikum!" Andang membuka pintu. Tidak ada jawaban. Ia langsung menuju kamar ibu.
"Ndang, sudah pulang." Mbak Titin, tetangga sebelah rumah sedang mengompres kening ibu.
"Mbak kok ada di sini. Ibu kenapa?" Andang cemas dan mendekati ibunya.
"Tadi mbak bermaksud mampir sebentar, waktu dipanggil ibumu tidak menjawab. Mbak langsung masuk saja, ternyata sakit ibumu tambah parah. Badannya lemah sekali."
"Ibu. Ya Allah, bagaimana ini, obat ibu sudah habis." Andang terduduk lemas di samping ranjang.
"Jangan khawatir, Andang. Mbak Titin sudah belikan obat untuk ibumu."
Perlahan ibu membuka mata. Wajah ibu semakin cekung saja dengan lingkaran hitam di matanya. Selepas ashar mbak Titin pamit pulang. Andang masih menunggui ibunya. Ia tak tahu cara seperti apa lagi yang mampu ia lakukan untuk mengusahak kesembuhan ibunya. Mereka sudah tidak punya uang lagi. Ibunya sakit dan membutuhkan biaya untuk berobat. Pada saat yang sama harga obat sangat mahal. Sementara itu dua bulan lagi Andang akan mengikuti Ujian Akhir Nasional yang juga belum dibayarnya. Andang bukan siswa cerdas yang selalu mendapat beasiswa. Ia Cuma mendapat beasiswa bagi anak didik yang kurang mampu dan uang itu habis untuk berobat ibunya. Untungnya Andang adalah siswa yang rajin dan pandai bersosialisasi sehingga banyak pihak baik dari sekolah maupun luar sekolah yang sering membantu dalam hal ekonomi. Apalagi di saat ibunya sakit seperti ini. Namun rejekipun tak selalu datang dari para dermawan itu. Ketika semua uangnya telah habis, keputusasaan sering menghantui dirinya. Andang sangat menyayangi ibunya, hal ini membuatnya berpikir jauh lebih dewasa dari teman-temannya yang lain yang bisa menjalani hidup santai dengan sokongan biaya yang cukup dari orang tua mereka. Andang benar-benar merasakan bagaimana Allah memberinya cobaan.
Tiga hari dilaluinya dengan perasaan getir tak karuan. Andang tak mau memikirkan bagaimana harus melunasi uang ujian. Ia hanya memeras otak untuk dapat menyembuhkan ibu. Ketakutan yang ganas menaungi batinnya. Ketakutan seorang anak bila kehilangan ibu yang paling dicintainya. Ketakutan seorang anak yang takut sebatang kara bila ibunya meninggalkannya.
"Ya Allah…apa yang harus kuperbuat?" Air mata mengalir perlahan dalam shalatnya.
"Kumohon Ya Allah… Aku sangat ingin ibu sembuh dari sakitnya. Karena tidak ada lagi orangtua yang kuharapkan dan kusayangi selain ibu. Jangan biarkan kami menderita terus Ya Allah… kumohon sembuhkan ibuku, sembuhkan ibuku, kumohon Ya Allah…" Andang menatap ibunya yang sedang tidur. Pandangan yang sungguh memilukan. Nalurinya seakan tercabik-cabik dan tiada daya untuk berupaya sedikitpun. Penderitaan yang paling hebat itu adalah ketika kita menyaksikan ibu sakit sementara kita tidak memiliki kekuatan untuk berikhtiar menolongnya.
"Yuk berangkat!" Pino sudah menunggu di depan gang.
"Ndang, kuperhatikan kamu kok jadi pendiam. Ada masalah apa?" Pino mulai mengayuh sepeda.
"Ibuku. Sakitnya tak kunjung sembuh."
"Ibumu masih suka batuk-batuk?"
"Ya, bahkan sampai mengeluarkan darah. Aku sangat cemas. Tidak tahu bagaimana aku bisa membeli obat." Setelah itu keduanya terdiam sampai mereka tiba di sekolah. Pino ikut sedih mengetahui kondisi ibu Andang yang tak membaik. Ia berpikir keras untuk bisa membantu sahabatnya dan ia teringat sesuatu.
"Nanti pulang sekolah kau bisa ikut aku." Pino melihat wajah Andang yang masih murung.
"Kemana, No?"
"Kerumah Pak De Abidin. Kau tentu masih ingat, dia adik ayahku yang bekerja sebagai mantri." Pino menjelaskan.
"Oya, aku ingat. Untuk apa kita ke sana?"
"Kita akan mengajak Pak De Abidin kerumahmu. Biar Pak De memeriksa dan memberi obat untuk ibumu." Pino merangkul Andang.
"Subhanallah. Apa tidak merepotkan…"
"Yang penting ibumu, Ndang. Lagipula sudah seharusnya aku membantumu."
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Pino." Keduanya berpelukan dan Andang merasa lebih lega. Di benaknya ia benar-benar berharap melihat ibunya sembuh seperti sedia kala.
Sepulang sekolah Pino dan Andang segera melesat ke rumah Pak De Abidin. Tidak lama kemudian ketiganya pergi ke rumah Andang. Pak De Abidin tak lupa membawa peralatannya dan obat-obatan. Andang tak sabar untuk tiba di rumah. Ia sangat bersyukur karena rejeki yang baru didapat dari sahabatnya itu.
Sampai di rumah, Andang segera mempersilahkan Pak De masuk ke kamar ibu. Dilihatnya ibu sedang tidur.
"Ini ibu saya, silahkan diperiksa Pak De." Andang mendekat ke ranjang tempat ibunya berbaring.
"Baiklah." Pak De Abidin mulai memeriksa ibu. Sewaktu memeriksa denyut nadi ibu, Pak De mengulanginya beberapa kali. Alis Pak De meninggi beberapa kali. Andang menangkap sesuatu yang tidak enak, Pak De mulai tampak panik, ia menekan perut ibu beberapa kali. Sepuluh menitpun berlalu berganti jadi sunyi. Pak De menatap Andang dengan pandangan kosong. Diraihnya tangan Andang, dipeluk dan dibisikkan sesuatu.
"Andang, sabarlah nak. Kuatkan hatimu. Ikhlaskan kepergian ibumu." Andang terpaku. Ia menoleh ke arah ibu yang tampak kaku membujur di atas dipan. Namun ia tidak mudah percaya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…" Pino mengelus-elus punggung Andang.
Andang sudah tidak berkata-kata lagi. Darahnya seakan berhenti mengalir. Tidak disangka Allah telah mengambil ibunya untuk selama-lamanya. Matanya berkunang-kunang. Setelah sempat membisikkan kata 'Ibu', ia lunglai tak sadarkan diri.
Sehari setelah kematian ibunya, Andang meninggalkan rumah pagi-pagi sekali. Sebelum matahari terbit menyapa bumi ia sudah berjalan begitu jauh. Bagai anak ayam kehilangan induknya, ia terus berjalan jauh. Tak terasa ketika hari terang Andang sudah berada di sebuah jalan tol. Ia tidak peduli tatapan orang-orang padanya. Andang terus menyeret sandalnya menyusuri pinggir jalan tol yang kian ramai oleh kendaraan.
Matahari semakin tinggi, sinar hangatnya menyilaukan mata Andang. Kakinya terasa lelah, ia berhenti sebentar di tepi jalan tol. Ia memandang ke sekelilingnya. Sesaat kepalanya terasa pusing. Andang menunduk lemas, berat sekali untuk mengangkatnya kembali. Setelah agak tenang ia memejamkan mata. Beberapa saat kemudian Andang mengangkat kepalanya, membuka mata perlahan. Pandangannya sedikit kabur, samar-samar ia melihat bapaknya di seberang jalan. Andang menatap heran, ia juga melihat ibunya berada di tengah jalan. Ia tidak memperhatikan bila sebuah mobil sedang melaju kencang ke arahnya. Ia tak kuasa memikirkan semuanya itu. Ia menoleh ke kanan dan di dapatinya Pino tengah melambai-lambaikan tangan di atas sepeda yang biasa memboncengnya. Ah…kepala Andang mendadak pusing lagi. Pelan-pelan ia melangkah, semakin cepat, dan Andang pun berlari. Ia akan menyelamatkan ibunya yang dilihatnya sedang terancam bahaya. Kalau tetap berada disitu ibu bisa tertabrak mobil, begitu pikirnya.
Peristiwa mengerikan baru saja terjadi. Seorang pria setengah baya turun dari mobil. Berjalan lesu ke arah orang-orang yang mulai berkerumun.
"Memangnya bapak tidak melihat kalau anak ini ada di tengah jalan." Seorang pengendara mobil yang lain menanyainya.
"Inikan jalan bebas hambatan. Aku sudah terlanjur melaju kencang, anak ini tiba-tiba sudah ada di tengah jalan." Pria itu ngotot bahwa dia tidak sengaja menabrak.
"Anak ini telah tewas." Polisi yang memeriksanya segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa korban ke rumah sakit.
"Kasihan anak itu." Seorang wanita tua tak tega menatap Andang yang telah meninggalkan langkahnya di dunia untuk selamanya. Ucapan yang sama juga menyeruak di hati orang-orang yang berada di tempat kejadian.
Perjalanan hidup Andang yang banyak menderita di usianya yang masih muda, telah berakhir dengan kejadian mengerikan pagi itu. Tanpa ucapan selamat jalan dari orang-orang yang menyayanginya.


Karangkates, 12 Mei 2005

TUGAS AKHIR PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH

TUGAS AKHIR
PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH


KONVERSI LAHAN PERTANIAN
DI KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR


Oleh :
Indah Ayu Wardhani
0610430030


PROGRAM STUDI ILMU TANAH
JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
JUNI 2009




Konversi lahan pertanian yang digunakan untuk perumahan, industri atau fasilitas lain kini semakin merebak. Fenomena ini menunjukkan banyaknya lahan pertanian yang dijual atau dikonversi ke usaha nonpertanian. Sehingga, produksi pertanian di wilayah itu pertumbuhannya menurun.
Masalah konversi adalah krusial yang dihadapi setiap negara dan sangat sulit untuk dihindari. Sebab, lambat atau cepat wilayah yang dahulunya desa akan berubah menjadi kota. Atau dengan kata lain, ada perubahan di mana pola kehidupan yang berdasarkan pertanian akan tergeser pada pola kehidupan dengan industrialisasi. Dengan kata lain, desa akan menjadi kota dan bukan sebaliknya.
Dengan demikian pula, sejalan dengan perubahan tersebut masalah konversi lahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan pertanahan di setiap daerah. Bahkan bisa dikatakan konversi adalah simbol kebijakan perilaku untuk mengubah masyarakat dari sistem pertanian ke arah sistem industrialisasi, meskipun kadang kebijakan ini sering dipaksakan.

Banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi bangunan, berupa pendirian gedung-gedung universitas, rumah, toko dan lainnya contohnya saja di kawasan Kabupaten Malang ini yang membuat semakin berkurangnya lahan pertanian padahal lahan pertanian ini sangat di perlukan untuk meningkatkan produksi pangan nasional dan bila alih fungsi ini tidak dibatasi maka resapan air semakin berkurang karena di sekelilingnya dibuat petak-petak semen, sehingga perlu adanya peran pemerintah daerah untuk menanggapi situasi ini. Untuk meningkatkan produksi pertanian di masa mendatang diperlukan lahan baru. Indonesia diperkirakan akan mengalami krisis pangan jika tidak ada upaya untuk menahan laju penurunan lahan pertanian yang terus beralih fungsi.

Konversi lahan lahan pertanian menjadi perumahan di Kab. Malang mencapai delapan hektar per tahun. Diperkirakan 15 tahun mendatang, kabupaten ini akan mengalami kepadatan penduduk yang luar biasa. Aktivitas alih fungsi lahan pertanian ke perumahan menunjukkan kecenderungan naik sejak 2001. Kawasan yang marak mengalami konversi lahan pertanian menjadi bangunan-bangunan adalah di wilayah Malang Utara, seperti di Kecamatan Lawang, Singosari, Karangploso dan Pakis. Sedangkan untuk kawasan Kabupaten Malang bagian selatan masih relatif aman dari serbuan pengembang maupun investor yang akan mendirikan pabrik. Tidak begitu banyak lahan produktif yang beralih fungsi menjadi lahan perumahan maupun industri.

Kecenderungan yang kini berkembang adalah wacana bahwa pengembang mulai melirik juga kawasan Kabupaten Malang bagian tengah, yakni di daerah Kepanjen dan sekitarnya untuk dikembangkan menjadi kompleks perumahan. Mengingat Kepanjen merupakan kawasan penting sebagai Ibu Kota Kabupaten, yang mengindikasikan ramainya interaksi bisnis dan ekonomi yang menguntungkan secara finansial. Infrastruktur seperti jalan-jalan alternatif dan jembatan yang semakin banyak dibangun semakin menjadi daya tarik pengembang maupun investor untuk membangun rumah maupun industri di Kepanjen dan sekitarnya. Infrastruktur yang memadai menjadi pertimbangan utama bagi pengembang dan investor untuk inves di suatu daerah, dalam hal ini Kepanjen dan sekitarnya telah menjadi obyek yang sangat diminati para investor. Kepanjen dan sekitarnya kini memiliki daya tarik besar bagi investor, terutama pengembang perumahan.

Hingga saat ini maraknya konversi lahan menjadi perumahan dan bangunan infrastruktur lainnya masih belum menimbulkan masalah atau belum mengganggu ketahanan pangan di kawasan Kabupaten Malang. Meski demikian tidak bisa dibiarkan begitui saja. Peranan pemerintah sangat besar dalam permasalahan ini, mengingat perijinan pendirian bangunan merupakan campur tangan langsung dari pemerintah. Diharapkan pemerintah memperketat kedisiplinan dalam menjalankan fungsi perijinan pembangunan. Dengan adanya estimasi bahwa 15 tahun mendatang Kabupaten Malang akan menjadi kawasan yang padat penduduk, maka kecenderungan bertambahnya permasalahan di bidang sosekbudhankam akan meningkat. Hal itu dapat digunakan sebagai acuan untuk mempertimbangkan perencanaan pembangunan wilayah Kabupaten Malang, sehingga dapat mengadakan pembangunan dengan meminimalisir permasalahan dan bencana yang dapat merugikan kehidupan masyarakat di masa yang akan datang.

Proses alih fungsi lahan pertanian (konversi lahan) dapat dilakukan oleh petani sendiri atau dilakukan oleh pihak lain. Secara umum alih fungsi lahan yang dilakukan oleh pihak lain memiliki dampak yang lebih besar terhadap penurunan kapasitas produksi pangan karena proses alih fungsi lahan tersebut biasanya mencakup hamparan lahan yang cukup luas, terutama ditujukan untuk pembangunan kawasan perumahan. Proses alih fungsi lahan yang dilakukan oleh pihak lain tersebut biasanya berlangsung melalui dua tahapan, yaitu: (a) pelepasan hak pemilikan lahan petani kepada pihak lain yang kemudian diikuti dengan, (b) pemanfaatan lahan tersebut untuk kegiatan non pertanian.
Dampak alih fungsi lahan pertanian terhadap masalah pengadaan pangan pada dasarnya terjadi pada tahap kedua. Namun tahap kedua tersebut secara umum tidak akan terjadi tanpa melalui tahap pertama karena sebagian besar lahan pertanian dimiliki oleh petani. Dengan demikian pengendalian pemanfaatan lahan untuk kepentingan pengadaan pangan pada dasarnya dapat ditempuh melalui dua pendekatan yaitu: (1) mengendalikan pelepasan hak pemilikan lahan petani kepada pihak lain, dan atau (2) mengendalikan dampak alih fungsi lahan tanaman pangan tersebut terhadap keseimbangan pengadaan pangan. Pengendalian pelepasan lahan petani kepada pihak lain secara teoritis dapat dilakukan dengan memberikan insentif yang besar kepada petani agar mereka tidak menjual lahannya. Pendekatan ini akan membutuhkan dana yang sangat besar karena perbandingan land rent untuk penggunaan pertanian dan non pertanain sekitar 1 : 500 dan 1 : 622 untuk kawasan industri dan kawasan perumahan (Nasoetion dan Winoto, 1996). Pendekatan ini misalnya dilakukan oleh Jepang yang memberikan subsidi harga komoditas pertanian yang sangat tinggi untuk mencegah penyusutan lahan pertanian.

Upaya pengendalian dampak negatif dari konversi lahan tanaman pangan dapat dilakukan dengan mengembangkan suatu sistem kompensasi lahan. Bagi sektor pertanian dan daerah pedesaan alih fungsi lahan tanaman pangan memberikan dua dampak utama yaitu penurunan kapasitas produksi pangan dan penurunan kapasitas penyerapan tenaga kerja pertanian. Oleh karena itu besarnya kompensasi yang diberikan paling tidak harus mampu mengembalikan keseimbangan pengadaan pangan dan keseimbangan kesempatan kerja di daerah pedesaan yang terganggu akibat alih fungsi lahan tanaman pangan.

Sebagai konsekuensi logis dari pertambahan penduduk dan pembangunan ekonomi, maka terjadi perubahan alokasi sumberdaya, khususnya sumberdaya lahan sulit dihindari. Akibat tidak diperhatikannya skala prioritas alokasi penggunaan sumberdaya lahan, maka terjadi pula konflik alokasi sumbedaya lahan untuk penyediaan sumber pangan dan pembangunan sarana dan prasarana pemukiman.

Di Jawa Timur, luas sawah yang terkonversi relatif paling besar dibanding dengan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hal ini selain karena proporsi luas arealnya lebih besar, juga diduga perkembangan perekonomian terutama perkembangan sektor industri di Jawa Timur relatif lebih pesat dibanding di Jawa Tengah atau di Jawa Barat. Luas lahan sawah yang terkonversi sebelum mempertimbangkan luas pencetakan adalah 369 ribu hektar selama periode 18 tahun. Besaran luas konversi ini diperparah lagi oleh kurang berhasilnya program pencetakan lahan sawah akibat keterbatasan sumberdaya lahan yang potensial. Dengan demikian penyusutan lahan sawah yang tersedia di Jawa Timur menjadi jauh lebih besar dibanding dengan Jawa Barat (15%) dan Jawa Tengah (50%) yaitu sekitar 288 ribu hektar atau 16 ribu hektar per tahun. Secara spasial, Di Jawa Timur agak berbeda dengan dengan di propinsi lain di Jawa. Tampak bahwa konversi lahan sawah yang tinggi relatif menyebar yaitu pada kabupaten-kabupaten yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif pesat dan dekat dengan pusat pertumbuhannya.



DAFTAR PUSTAKA


Adjid, Dudung A.1985. Pola Partisipasi Masyarakat Pedesaan Dalam Pemban­gunan Pertanian Berencana. Orba Shakti Bandung.

Anonymous. 2009. http://www.malangkab.go.id. diakses pada 10 Juni 2009.

Anonymous. 2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Malang. diakses
pada 11 Juni 2009.

Anonymous. 2009. http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/jatim-kti/1id70665.html. diakses pada 11 Juni 2009.

Irawan, Bambang dan Supena Friyatno. Dampak Konversi Lahan Sawah di Jawa Terhadap Produksi Beras dan Kebijakan Pengendaliannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian R.I : Bogor

Nasoetion, L. dan E. Rustiadi. 1990. Masalah Konversi Lahan Sawah dan Penggunaan Non-Sawah, Fokus Jawa dan Bali. Pertemuan Ilmiah Pembangunan Pedesaan dan Masalah Pertanahan, 13-15 Februari 1990. DAU. Studi Sosial. UGM.

Nasoetion, L. dan J. Winoto. 1996. Masalah Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Dampaknya Terhadap Keberlangsungan Swasembada Pangan. Didalam: Hermanto (eds), Prosiding Lokakarya Persaingan Dalam Pemanfaatan Sumberdaya Lahan dan Air:pp.64-82. PSE dan Ford Foundation.