Tanpa terasa waktu liburanku berakhir. Berat hati kuraih barang-barangku dan dengan segera ayah mengantarku sampai terminal bus. Aku banyak mengeluh selama dalam perjalanan, tapi hanya dalam hati. Tidak akan tega aku memperdengarkan keluhanku apalagi yang sensitive terhadap perasaan ayah. Perjalanan panjang, sekitar enam atau tujuh jam, aku telah menyiapkan diri untuk semuanya. Begitu pula ibu dan kakak perempuanku yang begitu cerewetnya menasehatiku. Lucu juga, padahal ibu dan mbak Kara tidak pernah bepergian keluar kota, tapi petuah mereka selalu tepat dan benar. Bagaimana aku harus sangat waspada dan siaga terhadap bahay apapun yang mungkin mengancamku saat perjalanan nanti. Mungkin itu yang membuat seorang wanita harus selalu dihormati, mereka hampir selalu mampu merasakan hal-hal yang belum dirasakan para anak atau suami mereka. Oh tidak, aku jadi merasa berat meninggalkan rumah. Setelah hidup di rantau, rumah menjadi satu tujuan hidup yang sangat memberatkan hati untuk ditinggalkan.
Ayah menyuruhku naik bus ber-AC, demi keamanan dan kenyamananku. Diam-diam setelah ayah pergi aku menaiki bus non-AC yang hampir penuh, ini demi menghemat pengeluaranku. Bukan maksudku membohongi ayah, inilah usahaku untuk menjaga kelangsungan hidupku di perantauan nanti. Tarif bus ber-AC dua kali lipat dari bus non-AC dan aku sangat menyayangkannya. Kenyamanan bukan prioritas utama, aku butuh hemat meski tersendat. Tak apalah naik bus jelek dan bau, yang penting sampai di tujuan dan masih punya uang lebih yang bisa ditabung. Hidup melarat di rantau itu sangat menggoda iman dan kalau tidak kuat hati maka prinsip yang selama ini kokoh berjalan bisa lumer dan menyesal pada akhirnya. Aku mendapat satu-satunya kursi kosong, nomor dua dari belakang. Tas berisi pakaian-pakaian dan beberapa buku kuliah kuletakkan di bagasi sempit di atas kepalaku. Aku memangku tas kecilku yang isinya tidak seberapa. Kalau kubuka orang–orang pasti mengomel karena bau petai dari dalam tasku akan menambah keapekan bau di dalam bus itu.
Perjalanan yang sudah lama tidak kulakukan. Kini aku membayangkan betapa kotornya kamar kosku setelah lebih dari sebulan kutinggal mudik. Aku merindukan teman-teman satu kosku. Setelah ini kami akan bertempur lagi melawan garangnya atmosfer anak kos di kota besar. Dalam hati aku mulai mendaftar apa saja yang akan kulakukan sesampainya di kos nanti. Pertama, aku harus membayar uang lima puluh ribu yang kupinjam dari Koko sebelum mudik. Bersyukurlah aku karena Koko anak orang berada yang tidak pelit dan tidak sombong. Waktu itu aku benar-benar kehabisan uang dan tidak ada sisa uang lagi untuk mudik. Dengan senang hati Koko meminjamiku uang meski baru kubayar setelah mudik dari desa. Kedua, aku juga harus melunasi tunggakan uang kos. Saat itu aku sedang butuh banyak uang untuk bolak-balik ke rental komputer demi tugas-tugas kuliah yang tak pernah berhenti menhujani dompetku. Apalagi aku tidak bisa memiliki computer pribadi, jadi sudah takdir para pemilik rental computer untuk menerima rejeki mereka dari kantong mahasiswa berkantong pas-pasan seperti aku. Hal itu membuatku terpaksa membayar hanya sebagian uang kos, sisanya seratus ribu baru kubayar setelah mudik nanti. Untunglah ibu kos memberikan kesempatan langka untuk mencicil. Ketiga, lagi-lagi aku harus menyelesaikan pembayaran katering langgananku. Sebenarnya uang katering telah dibayar pamanku yang kebetulan kenal baik dengan pemilik usaha katering itu. Aku merasa sangat tidak enak hati sebab paman Bahri itu hanya saudara jauh ibuku, tapi beliau sangat baik hati dan seringkali mengunjungiku. Sebelum paman Bahri membayar uang katering, aku telah meminta Bu Sula, pemilik katering, untuk mengatakan pada paman bahwa harga kateringku dua puluih ribu saja tiap minggunya, bukan empat puluh ribu. Ternyata paman membayarnya untuk satu bulan saat terakhir aku berada di kos. Yang membuatku lebih sungkan lagi, ia selalu membawa makanan atau barang-barang yang memang berguna untuk kuliahku. Aku pernah curiga kalau paman bahri mempunyai maksud tertentu. Sebab setiap datang ia selalu bersama seorang gadis belia yang mungkin dua tahun lebih muda dariku. Gadis itu tidak banyak bicara, tetapi orangtuanya selalu menceritakan tetang dia di depanku tanpa malu-malu, kemudian ditambah cerita-cerita yang ada saja dan selalu bisa berhubungan denganku. Bukannya aku GR, tapi jelas sekali kalau keluarga itu baik padaku karena dua hal : tulus sebagai saudara dan ingin menjodohkan putri mereka denganku. Hihihi, aku terlalu PD. Tapi biarlah. Meskipun gadis itu sering membuat hatiku gelisah, aku belum sempat berpikir lebih jauh tentangnya. Kembali masalah hutang, jadi total hutangku delapan puluh ribu untuk sisa uang katering. Semuanya kalau ditotal jadi dus ratus tiga puluh ribu. Tadi pagi ayah memberiku empat ratus ribu seprti biasa untuk hidupku selama sebulan. Kemudian aku mendapat tambahan seratus ribu dari Mas Mono, suami kakak perempuanku. Tabunganku sendiri seratus lima puluh ribu. Berarti sisa uangku hanya dua puluh ribu kalau hutangku lunas. Aku mulai membayangkan penyesalanku karena novel yang kuimpikan jadi milikku lagi-lagi gagal terbeli.
Setelah ashar perjalanan panjang berakhir. Aku menunggu semua penumpang turun baru aku berdiri dan meraih tas di atasku. Entah perasaan apa yang kurasakan, aku lunglai tanpa arti mengetahui tas itu tak ada. Berkali-kali kucoba menyangkal tapi tak dapat diingkari lagi, aku kecopetan!!! Sopir dan kondektur bus berlagak tak tahu apa-apa dengan sok menanyaiku seolah mereka mencemaskanku. Aku tahu betul mereka hanya menutupi keacuhan mereka dengan sok iba padaku. Mungkin juga mereka telah mengetahui peristiwa pencopetan itu tapi tidak berani berbuat apa-apa karena biasanya orang-orang seperti mereka mau tidak mau harus memaklumi kelakuan para penjahat jalanan, asal mereka tidak saling mengganggu maka semua dapat berjalan dengan mulus.
Baiklah, aku menyerah, aku pasrah. Aku berusaha keras menerima ini semua sebagai takdir, takdir yang cukup menyenangkan, sehingga aku bisa mengambil pelajaran di baliknya. Agar aku tidak lagi menghitung daftar hutangku saat di dalam bus dimana para pencopet selalu tahu sasaran empuk ada di depan mata. Turun dari bus aku berjalan pelan menuju deretan bus kota. Masih banyak kursi kosong dan aku memilih duduk di kursi paling depan tepat di belakang sopir. Aku tidak mau lagi mengkalkulasi kerugianku setelah kehilangan tas. Kudengarkan lagu dangdut yang diputar sopir bus dengan seksama dan sangat menikmati. Sekali waktu menyenangkan juga mendengarkan lagu dangdut.
Si pencopet sudah jauh entah di mana. Kali ini hatinya berbunga-bunga setelah sekian kali berhasil mencopet sekarang berhasil lagi. Dipikirannya terbayang isi tas mahasiswa pelamun itu tentu akan sangat menguntungkan. Biasanya anak kos yang habis mudik akan membawa harta yang banyak untuk hidup merantau lagi. Si pencopet tidaklah kumuh atau sangar. Wajahnya kalem, tampak ramah, pakaiannya rapi dan tentunya ia bersepatu laiknya pegawai kantoran. Tiba-tiba perut kosongnya berontak dan ribut. Tanpa pikir panjang ia melangkah dengan mantap ke sebuah tempat yang diyakininya dapat membuat perutnya buncit karena kenyang. Kini ia telah tersenyum puas menatap menu hidangan di hadapannya. Dengan sedikit berbangga hati ia menyempatkan diri makan di sebuah restoran menengah ke atas. Sebuah kegiatan yang luar biasa dan tidak biasa untuk pencopet bergaya elegan seperti dia. Mari kita beri tepuk tangan meriah untuk kelihaian si pencopet.
”Sebelum disetorkan pada bos, alangkah asyiknya kalau hasil kerjaku ini kucicipi lebih dulu. Toh tidak akan ketahuan.” Ia membisiki sepotong steak di ujung garpunya. Kenikmatan yang diresapi dengan sungguh-sungguh membuatnya lupa bahwa isi tas itu belum dilihatnya sama sekali. Kemudian dengan tenang dibukanya tas itu dan ia menemukan beberapa buku di bagian atas. Di bawahnya terdapat beberapa pakaian dan sebuah handuk, semuanya terlihat tak berharga karena warnanya pun mulai pudar. Ada beberapa sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi dan sabun cuci. Di saku depan tas itu tertata rapi dua pak jepit jemuran dan sebuah sisir. Semua kantung usai dijelajahi dan ia tak berhasil mengulas senyum, si pencopet kian gelisah tanpa tujuan. Sekali lagi diperiksanya tas itu dan tak juga ditemukannya sepeser pun. Dengan hati kacau ia menjaga agar wajahnya tetap tenang. Ia meminum cappucino dinginnya perlahan dan semakin pelahan sampai kerongkongannya menelan kehampaan. Ia tak mau menjadi bulan-bulanan satpam yang berjaga di pintu karena tak mampu membayar. Setelah agak tenang ia mengingat jumlah uang yang ada di kantong celana necisnya. Teringatlah ia bahwa di dompetnya ada lima puluh ribu yang pasti pas untuk membayar menu pesanannya. Dengan lega hati ia meraih kantong belakang celananya dan... berapa kalipun dicari dompet itu tak ada di semua kantong celana maupun kemejanya. Dalam hati diumpatnya habis-habisan orang yang mencopet dompetnya. Tangan kanannya masih berada di saku celana, ada sesuatu yang disentuhnya. Dengan cemas dikeluarkan kertas yang terlipat-lipat itu. Sepuluh ribuan! Si pencopet amat senang menemukan selembar uang tapi sedetik kenudian ia kembali tak berdaya. Selembar itu hanya cukup untuk membayar secangkir cappucino yang tak disentuhnya lagi, sebab rasanya menjadi sepahit arang dan menjengkelkan.
Karangkates, 12 Juli 2007
Welcome to Ayucities
Reading...
Thinking...
Aspirating...
Writing...
Thinking...
Aspirating...
Writing...
Kamis, 23 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar