Welcome to Ayucities

Reading...
Thinking...
Aspirating...
Writing...

Kamis, 23 Juli 2009

Cerpen : Bersama Automatic Pipel

Aku cukup tenar di kampus sebagai pemain gitar yang handal dengan band yang sering mendapat nama terbaik dalam festival-festival musik. Tapi perlu kau ketahui bahwa aku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Kehidupan yang naik turun, kadang cukup kadang tidak. "Yang penting kalian sekolah dan bisa makan setiap hari, itu sudah bagus." Berulang kali bapak mengucapkan kalimat itu pada anak-anaknya. Perjuangan orangtua untuk membiayai pendidikan kedua kakakku saat itu sangat sulit. Kalang kabut berusaha agar keduanya bisa terus menempuh pendidikan dan seringkali aku tidak mendapat uang saku. Lha wong biaya kuliah satu orang saja sudah banyak, apalagi kakakku kembar begitu, jadi dobel. Semuanya menjadi lebih baik saat kakak-kakakku sudah bekerja, lalu mereka menikah. Sedikit-sedikit mereka membantu orangtua membiayai sekolahku. Dua tahun kemudian aku lulus SMU dan mulai bimbang menentukan kuliah. Dengan banyak pertimbangan aku memilih satu jurusan di Universitas Gadjah Mada dan satu lagi di Universitas Brawijaya. Hasil SPMB menentukan aku diterima di Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya. Aku nekat mengambil jurusan itu dan memaksa orangtuaku merelakan kepergianku ke Malang. Mereka pun ikhlas aku menempuh pendidikan di sana meskipun ibuku masih kaget dan tak percaya aku telah mengambil pilihan di kota yang menurutnya jauh itu. Ibu masih berat melepasku, tapi aku berhasil meyakinkan dirinya bahwa tujuanku semata-mata membahagiakan keluargaku. Aku ingat betapa sayangnya ibu padaku sampai-sampai ia memberikan sebuah kotak berisi perhiasan-perhiasannya. Aku tak bisa menahan air mataku ketika ibu mengatakan perhiasan itu untuk berjaga-jaga kalau aku membutuhkan biaya. Padahal yang kutahu perhiasan itu adalah milik ibu yang paling mahal kalau diuangkan. Tidak ada lagi benda mahal di rumahku saat itu bahkan sampai saat ini.
Satu tahun kulalui dengan lancar. Aku mulai menyukai kota yang cukup dingin ini. Begitu juga dengan teman-temanku. Aku mendapat kesempatan berkenalan dengan kawan-kawan musik di kampus yang sangat familiar. Merekalah yang menarikku menjadi pemain gitar band Automatic Pipel. Pendidikan dan musik kami berjalan dengan seimbang. Aku menyukai band kami, sangat suka. Mereka kawan-kawan yang mencintai musik tapi juga sangat menjunjung tinggi pendidikan. Seiring dengan kegiatan belajar kami musik pun berjalan riang dengan hasil yang membanggakan. Belum setahun berlalu kami telah menjadi pembicaraan banyak orang terutama yang menggandrungi musik. Ini semua bukan keberuntungan semata, tapi kerja keras dan doa yang tak pernah lupa kami panjatkan pada Yang Kuasa.
Kami baru selesai menggarap album indie. Kami sempat meninggalkan penggarapan itu karena ujian semester. Setelah itu semuanya kembali antusias dengan single bertajuk cinta dan sosial yang kami beri judul Keretakan Sebelah Globe. Dengan bantuan banyak pihak kami lebih mudah menyelesaikan album itu.
Sekarang aku sedang terduduk lemas di depan makam ibu, bapak, kedua kakak perempuanku, kedua kakak iparku, juga seorang keponakan laki-laki yang masih berusia satu tahun dan sedang lucu-lucunya. Mereka adalah keluarga yang paling kucintai. Namun mereka tinggal menjadi kisah termegah dalam bangunan masa laluku. Bila mereka tiada kini, tinggallah aku yang hanya sepotong tiang penyangga, hidup sendiri tanpa menyangga atau disangga apapun. Air mata ini masih menemani kepedihan hatiku. Aku sangat tak berdaya, merasa diri hampa, bagai daun yang jatuh dari pohon yang telah mati.
"Aaargh... " Aku menengadah menatap langit yang sekarang tak pernah jernih. Kenapa harus Bantul yang menderita paling parah dalam bencana gempa seminggu yang lalu, kenapa Bantul… Hatiku menjerit-jerit, histeris menyuarakan kesedihan yang panjang. Entah dimana ujungnya, semoga aku menemukannya. Pilu menyandera batinku. Bagaimana aku melanjutkan hidupku, semua yang kumiliki disini telah musnah. Terkubur dalam musibah besar ini. Aku menerawang, membayangkan betapa banyak korban yang berjatuhan setelah peristiwa gempa itu. Orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri. Tak tahu selamat atau malah tertimbun. Dan… keluargaku termasuk yang tak selamat itu.
"Kita pulang, Sa." Darma menyentuh bahuku. Aku berbalik menatap Darma, Udin, Kimu dan Ragil. Mereka tampak iba melihat wajahku pucat dan mata sembab yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Kami berjalan menuju mobil Udin. Mereka merangkulku dan terus menyemangatiku. Perjalanan kami lalui dengan lancar. Hatiku perih menatap rumah-rumah dan bangunan hancur, diluluh lantakkan gempa yang masih sering terjadi sampai saat kami kembali ke Malang. Berjam-jam mobil ini melaju dengan tenang, seiring kawan-kawanku yang terus menghiburku.
"Stooop…!!!" Kimu yang duduk di samping Udin yang sedang menyetir tiba-tiba berteriak. Untunglah Udin tidak terlalu kaget sehingga dia menepikan mobil pelan-pelan di tepi tol Surabaya.
"Koen iki ngaget-ngageti ae. Ono opo?" Tanya Darma yang sangat kaget.
"Ssst... semuanya tenang. Rungokno yo, Rek. Angkasa, Darma, Kimu, Udin, Ragil, kalian udah di Malang ta? Album indie kalian siap diluncurkan Sabtu depan. Cepat ke studio. Se...la…mat dan su…k…ses, Rek." Dengan gaya kocaknya Kimu membacakan SMS dari pak Bass, ayah Udin yang selama ini memotori gerak musik kami.
"Al…ham…du…lillaaah…" Kami saling berjabat tangan dan berangkulan. Aku juga sangat terhibur dengan hal ini. Hidupku yang baru akan berawal dari Automatic Pipel bersama rekan-rekan terbaikku. Meski tak memiliki naungan hati dari sebuah keluarga, aku telah memutuskan membangun keluarga baru untuk nantinya kujadikan tiang penopang hatiku yang pernah rapuh ini.


Karangkates, 4 Juni 2006

0 komentar:

Poskan Komentar