Ulung menyentuh kantong celananya untuk memastikan benda itu masih ada. Dengan yakin ia mengendap-endap di samping gedung bertingkat itu. Tanpa mengeluarkan bunyi-bunyian ia memanjat pagar samping gedung yang langsung menuju kantin. Sekarang ia sudah berdiri di depan kantin. Sekali lagi ia periksa peralatannya. Oh, rupanya ada satu barang lagi yang tertinggal di luar pagar. Cepat-cepat ia memanjat kembali dan dengan susah payah diangkutnya tas kain berisi botol-botol itu ke dalam. Ulung tersenyum puas dengan persiapannya yang matang. Dalam jangka waktu kurang dari satu jam ia berhasil menyelesaikan semuanya. Sebelum adzan subuh berkumandang Ulung sudah pulas lagi di tempat tidurnya.
Ibu membangunkan Ulung untuk sholat Subuh, Ulung keluar sebentar untuk ke kamar mandi. Bukannya sholat Ulung malah merebahkan diri di tempat tidur. Ia mengganjal kepalanya dengan kedua tangan yang ditekuk. Dalam hati ia geram mengingat kekecewaan yang diterimanya beberapa saat lalu. Saat itu ia dan teman-teman sekelasnya sedang berkumpul untuk membicarakan siapa yang akan mengisi acara gebyar seni setelah acara wisuda nanti. Seperti biasa band Andre, Iwan, Rudi dan Handoko yang terpilih. Tapi mereka bingung karena Gani pemain drum mereka mengundurkan diri dari band. Gani sedang mengalami masalah keluarga yang cukup berat sehingga ia tidak sempat lagi untuk bermain musik bersama rekan-rekannya. Band itu memutuskan akan diseleksi dari siswa-siswa di kelas itu yang bisa menggantikan posisi Gani. Ulung sudah yakin dirinya akan terpilih sebab ia telah mendapat janji dari Iwan. Ulung memberikan contekan pada saat Ujian Akhir Nasional dan sebaliknya Iwan akan memasukkan Ulung sebagai pemain drum baru di band kelas. Mereka berempat mengadakan rapat. Esoknya diputuskan bahwa Deden yang akan menjadi penabuh drum. Bukan main kecewanya hati Ulung. Ia menatap Iwan dengan wajah datar dan kesal.
"Aku sudah memberimu contekan. Apa balasanmu sekarang!" Kata Ulung bersungut-sungut. Ia berjalan pulang dan Iwan terus mengejarnya sambil berbicara.
"Maafkan aku, Lung. Aku tidak bisa memaksa mereka lagi. Kamu tahu kan Handoko ketua band, dan keputusan ini dia yang membuatnya. Andre dan Rudi juga setuju dengan Handoko. Mereka memilih Deden karena tahu bagaimana prestasi Deden di bidang itu. Maaf, Lung. Aku benar-benar..."
"Ya. Aku pun tahu. Deden baru mendapat penghargaan sebagai penabuh drum terbaik di kota ini. Dan kalian tidak akan menyia-nyiakan kehebatannya untuk mengangkat nama band kalian. Kamu pun melupakan aku begitu saja. Brengsek! Betapa menyesalnya aku kalau nanti nilai ujianmu bagus." Ulung mengumpat.
"Aku sudah mati-matian memperjuangkan kamu. Mereka malah memarahiku. Mereka tidak setuju karena belum pernah melihat permainanmu. Memang hanya aku yang selama ini mengetahui permainan drum-mu. Aku menyesal, Lung. Tolong maafkan aku."
"Aku yang lebih pantas menyesal!" Ditampiknya tangan Iwan dan ia bergegas pergi. Iwan tidak mengejarnya lagi. Ia sangat tidak enak hati tidak bisa memperjuangkan Ulung untuk bisa bergabung dengan band-nya.
Paginya orang-orang mulai ramai berkerumun di sekitar bangunan SMU yang sudah terbakar setengahnya. Pemadam kebakaran baru saja melaksanakan tugasnya. Guru-guru yang berdatangan tampak terkejut, tidak percaya, bahkan histeris. Rasanya sekolah ini baik-baik saja, bagaimana bisa tiba-tiba dibakar orang tak bertanggung jawab. Apalagi sebentar lagi akan diadakan acara wisuda dan gebyar seni. Para guru masih bertanya-tanya tentang kejadian aneh itu.
"Bagaimana bisa. Aduh... bagaimana dengan acara-acara di sekolah nanti. Ini..." Seorang guru wanita menjerit kebingungan.
"Tenang dulu, Bu. Jangan membuat keadaan jadi panas. Kita serahkan masalah ini pada pihak kepolisian." Pria di sebelahnya tampak tenang meskipun hatinya kecut.
Peristiwa pembakaran sekolah itu berhasil diusut. Ulung juga tak mengelak ketika polisi membawanya ke kantor polisi. Sementara orang tua Ulung menangis menjerit-jerit tak percaya anak bungsunya melakukan tindakan kriminal seperti itu. Kini Ulung resmi menjadi penghuni ruangan berjeruji yang dipenuhi anak-anak sebayanya. Setiap hari ibu Ulung datang ke penjara untuk menjenguk anaknya. Ia tidak sampai hati melihat putra kesayangannya mendekam di tempat menyeramkan seperti itu.
Dua hari kemudian beberapa guru sekolah Ulung datang ke rumah. Mereka mengungkapkan rasa prihatin yang amat mendalam atas peristiwa yang didalangi Ulung. Mereka amat menyesalkan Ulung bisa bertindak senekat itu. Yang mereka sayangkan adalah kenyataan bahwa Ulung adalah peraih nilai Ujian Akhir Nasional tertinggi di sekolah sekaligus di kotanya.
"Kami tidak menyimpan dendam pada anak Ibu. Bahkan kami sangat prihatin dengan keadaannya setelah mengetahui penyebab utama pembakaran itu." Kepala Sekolah menjelaskan.
"Benar. Memang salah yang dilakukannya, tapi kasihan juga kalau penyebab semua itu cuma kegagalannya menjadi pemain drum di grup band kelas. Semoga peristiwa ini adalah yang pertama dan terakhir. Serta dapat memberi pelajaran bagi kita semua untuk lebih memahami kondisi putra-putri kita dalam kegiatan belajar dan kehidupan sehari-harinya." Wali kelas Ulung juga hadir di situ.
Teman-teman Ulung merasa kasihan, takut, juga kecewa terhadap Ulung. Sebagian teman-temannya menjadi benci pada Ulung. Iwan yang paling merasa bersalah. Ia merasa memanfaatkan Ulung. Nilai ujiannya memang diluar dugaan, jelas saja karena ia mencontek juara kelas. Tapi ia telah gagal memenuhi janjinya pada Ulung dan mengakibatkan temannya itu harus menerima masa kelam dalam hidupnya di dalam sel. Belum lagi gedung sekolah yang rusak. Iwan benar-benar pusing tujuh keliling. Ulung pun telah benar-benar membencinya.
"Ulung." Sapa Iwan saat menjenguk Ulung bersama anak-anak band-nya.
"Heh! Muak aku melihatmu. Pulang sana! Tempatmu bukan disini!" Ulung menjauh dan bersikeras tidak mau bertemu lagi dengan mereka. Seperti orang yang kehilangan akal sehatnya Ulung menendang-nendang dinding sel sampai ia kesakitan sendiri.
"Aku yang memainkan drum itu! Aku yang berhak! Tidak ada yang bisa mengalahkan aku. Akulah penabuh drum terhebat itu…" Teriaknya sambil bersenandung tak karuan dan tertawa keras sampai penjaga menyuruhnya untuk tutup mulut.
Karangkates, 26 Mei 2006
Welcome to Ayucities
Reading...
Thinking...
Aspirating...
Writing...
Thinking...
Aspirating...
Writing...
Kamis, 23 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar