Welcome to Ayucities

Reading...
Thinking...
Aspirating...
Writing...

Kamis, 23 Juli 2009

Cerpen : Hati Yang Selamat dan Tidak

Kata siapa orang miskin dilarang sakit. Justru orang miskin harus sakit. Kalau bisa sakit keras yang sampai harus rawat inap di ICU. Seperti Mijil, bocah sepuluh tahun yang terpaksa dilarikan ke UGD karena tiba-tiba muntah darah dan pingsan. Orang-orang mengira bocah itu demam berdarah., mulanya Samadi, bapaknya, hendak membopongnya ke puskesmas yang hanya bejarak lima belas meter dari pondok kecil alias gubuk mereka.
Siang itu, matahari yang terik mendadak raib, langit bersemu mendung agak sejuk. Heny tergopoh-gopoh menenteng tas dan peralatan kerjanya ke rumah Samadi.
“Dimana Mijil?” Teriaknya tak tahu aturan. Tidak ada yang menjawab. Heny menelusuri tiap ruangan dalam satu menit dan keluar runah dalam keadaan gelisah.
“Dibawa ke Puskesmas, Bu!” Teriak Purnomo, tetangga seberang rumah. Ia melongo menatap Heny berlari cepat meninggalkan rumah itu. Kepala menggeleng-geleng disertai senyum nakal mengagumi kecantikan bidan yang berdedikasi tinggi itu. Sejak datang ke kampungnya, Purnomo tidak henti-hentinya menaruh pehatian khusus pada Heny. Tapi dia hanyalah pria yang melajang sampai tua dan tidak punya apa-apa untuk menjamin kebahagiaan hidup. Purnomo masih menumpang di rumah orang tua, tidak mau bekerja karena malas, suka melecehkan gadis-gadis bahkan ibu-ibu di kampungnya, hobinya menyombongkan harta orang tua tanpa malu sedikit pun. Ia bisa saja memikat wanita dengan tampangnya yang cukup enak dilihat dan harta orang tuanya yang terkenal paling melimpah di kampung, tapi naasnya ia selalu menjadi celaan para wanita karena kebodohan dan kemalasannya.

Setiba di puskesmas Heny langsung bertemu Dokter Sugeng yang baru saja menangani Mijil.
“Tidak bisa di sini, haus dibawa ke rumah sakit. Dia…”
“Saya lihat dia dulu.” Heby bergegas masuk kamar.
“kondisi Mijil ini sedang parah-parahnya.” Dokter Dahlia menjelaskan.
“Tunggu apa lagi. Segera dibawa ke rumah sakit!” Heny setengah memerintah. Dokter Sugeng, Dokter Dahlia, dan dua orang perawat saling berpandangan. Tampaknya ada hal serupa yang mereka pikirkan. Tiba-tiba Dokter Dahlia menarik tangan Heny dan berbisik, “ Dilarang oleh Samadi. Sebelum kamu datang Mijil hendak dirujuk ke rumah sakit. Bapaknya berkelit soal biaya sehingga kami belum berani memutuskan.”
“Segera bawa Mijil ke rumah sakit. Saya yang bicara dengan bapaknya.” Heny berkata pelan namun nada tegasnya membuat mereka semua bergegas menurut.
Malam harinya Samadi tidur di rumah sakit, bergantian dengan istrinya, Ina. Pukul sepuluh kurang lima menit, Heny membuka pintu kamar tempat Mijil dirawat. Samadi terkejut serta tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.
“Bu, saya tidak mampu membiayai…”
“Tidak ada biaya yang perlu sampeyan tanggung. Ini tanggung jawab kami sebagai pengabdi kesehatan masyarakat, juga sebagai saudara sampeyan.” Pernyataan Heny tanpa diduga membuat Samadi menangis. Tapi Heny tak mau berdebat lagi keika Samadi mengeluh karena ia terlalu sering merepotkan Heny.
Lagi-lagi tanpa diduga keadaan Mijil bertambah kitis dan ruang ICU segera dibuka untuknya. Samadi terus memohon pada Tuhannya agar menyembuhkan Mijil, sebab ia tak tahan terus mendapat bantuan dari Heny. Sebentar kemudian sudah bekumpul semua anggota keluarga Mijil. Ina datang bersama dua adik kembar Mijil yang berusia empat tahun. Keluarga itu terus membisikkan doa pada Sang Khalik. Heny segera menyingkir dari kerumunan itu karena menerima telepon dari rekannya.
“Saya tidak bisa pulang begitu saja di saat kondisi anak itu sangat memprihatinkan. Bukan berarti apa-apa, tapi keluarganya butuh dukungan moral.” Heny mengakhiri telepon. Dia duduk di deretan bangku yang agak jauh dari ruang ICU, ia mengamati keprihatinan yang diresapi keluarga Mijil.
“Anda mengagumkan, seorang bidan baru yang rela membuang waktunya untuk mereka yang bukan siapa-siapa.” Dokter Sugeng tiba-tiba duduk di sebelahnya tapi Heny tidak terkejut karena ia sudah biasa mendengar keangkuhan dokter yang statusnya tidak jelas itu. Bukan rahasia lagi kalau ia naksir berat pada Heny, padahal di KTPnya tertera jelas bahwa ia telah menikah. Dari tampangnya juga bisa dibaca kalau ia telah memiliki anak yang pasti sudah besar-besar.
“Saya juga tidak mengira kalau anda mau membuang-buang bensin untuk pergi ke sini.” Heny menjawab sekenanya.
“Untuk tujuan yang jelas saya rela mengorbankan semua yang saya punya.” Perkataan dengan arah menjurus mulai ia lancarkan.
“Begitu juga saya.”
“Membiayai pengobatan Mijil itukah yang anda maksud jelas?”
“Lebih dari jelas. Ini sangat menguntungkan.” Sebelum lawan bicaranya menyanggah lagi Heny segera berdiri dan berjalan pelan menuju keluarga Mijil yang dirundung kecemasan.
“Mohon maaf, saya pamit pulang. Besok pagi setelah dari Puskesmas saya kembali dan saya harap Mijil tidak sendirian. Meskipun belum sadar, mijil akan merasa tenang kalau keluarganya menemani. Saya khawatir kalau saat sadar ia tidak melihat keluarganya, bisa berdampak terhadap psikologisnya. Seorang anak kecil akan mudah tertekan dan merasa takut kalau di saat sakit ia sendirian.” Heny berpamitan kemudian Ina memeluknya sambil menangis sesenggukan tanpa sungkan.
“Kamu tidak pernah berubah Heny. Kamu tetap sahabatku yang tulus dan suka menolong.” Ina mulai terisak.
“Sudahlah, In. Kamu harus tegar.”

Sebelum Dokter Sugeng sempat menawari untuk mengantar pulang Heny segera berjalan cepat dan menyetir mobilnya ke rumah sakit lain. Setengah jam kemudian ia sudah berdiri di samping ranjang Maulia. Ia terus menggenggam tangan gadis lima belas tahun itu. Mungkin karena terlalu lelah ia tidak menyadari ayam telah berkokok dan subuh telah berganti pagi. Heny tidak menyadari pula bahwa tangan Maulia telah membeku. Ia mengira dinginnya pagi menguasai tubuh Maulia sehingga perlahan ia menyelimuti gadis cantik kesayangannya. Tergesa-gesa Heny mengambil wudhu dan melaksanakan sholat di musholla. Sekembalinya dari musholla Heny tak bertumpu lagi. Pertahanannya roboh sekaligus. Putri tunggalnya telah meninggalkannya dengan sangat tenang. Heny tak henti-hentinya membelai wajah Maulia yang sedingin jemarinya yang membeku sejak subuh tiba. Pikirannya sesekali menerawang saat Maulia kecilnya sering mengeluh kesakitan tapi tidak tahu dimana letak sakitnya. Karena buah hatinya itu sangat ceria dan penuh semangat, ia mengira hanya rasa sakit yang tak berarti. Namun penyesalannya membludak saat Maulia pingsan di sekolah dan dokter rumah sakit mengidentifikasi putrinya terkena Cholilitas atau batu empedu dengan tubuh yang mulai menjadi kuning.

Masih dengan suasana duka yang terasa pahit Heny melantunkan beberapa bait doa untuk putri tercintanya sebelum batu nisan ditancapkan. Sekuat tenaga Heny menahan air matanya. Ia tahu Maulia paling tidak suka melihatnya menangis. Semenjak dirawat di rumah sakit Maulia justru menegarkannya agar jangan sampai menangisi dirinya dalam keadaan apapun. Ia ingin ibunya selalu tersenyum dan tegar agar dirinya lebih semangat. Bila Maulia terlelap, saat itulah Heny menangis tanpa suara, bukan menangis sedih atas cobaan itu tapi menangis haru bahagia karena ia telah diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk membesarkan gadis sehebat Maulia.
Tanpa mengurangi perasaan dukanya Heny segera pegi ke bank untuk mencairkan tabungannya. Siang ini ia akan melunasi biaya operasi Mijil. Baru saja Dokter Mirna meneleponnya dan mengabarkan bahwa Mijil menderita Sirisis Hepatis. Heparnya mengkerut dan mengakibatkan ketahanan tubuhnya sangat lemah. Heny mengingat enam bulan lalu Mijil terserang hepatitis dan itu membuat jiwanya nyaris terancam. Mungkin penyakitnya waktu itu yang menyebabkan heparnya memburuk saat ini.
Heny tidak bisa menunggu saat operasi Mijil dilaksanakan. Ia tidak bisa melimpahkan tanggung jawab di Puskesmas pada orang lain, sebab ia mengakui tenaga ahli di sana kurang. Adapun dokter berpengalaman seperti Dokter Sugeng tidak mempunyai loyalitas di lingkungan kampung yang baru sebulan menjadi tempat tingglanya itu.
Sampai di Puskesmas Heny disambut banyak orang yang mengucapkan turut berbela sungkawa. Ia menanggapi dengan tabah dan tak mau terpengaruh air matanya, ia minta semua rekannya kembali bertugas. Dokter Sugeng belum juga beralih dari sisinya. Bahkan ia mengikuti sampai Heny masuk ke ruangannya.
“Tolong, jangan membuat saya kesal dengan ocehan anda.” Akhirnya Heny naik pitam. “Kalau saya ingin, terlalu mudah bagi saya untuk memindahkan anda dari Puskesmas ini.” Suara Heny melemah tapi menegaskan keresahannya. Ia tidak ingin lagi mendengar ajakan menikah dari pria sepeti itu.
“Anda jangan munafik. Sekarang anda sendirian. Suami dan putri anda telah meninggalkan anda. Tentunya anda membutuhkan perhatian…”
“Cukup! Keluarlah sekarang dari ruangan saya!” Heny berbalik lalu sibuk dengan loker-loker di ujung ruangannya. Ia merasa berhak menentukan. Tidak hanya dirinya yang terganggu dengan Dokter Sugeng, tapi semua orang. Besok ia tidak akan mendengar lagi laporan buruk dari pasien atau para rekannya di Puskesmas itu tentang kesemena-menaan Dokter Sugeng dalam menangani pasien.

“Ria, tolong sampaikan pada Dokter Sugeng, saya tunggu di ruangan secepatnya.” Mendengar nama itu Ria tampak malas tapi ia segera menjalankan amanatnya.
“Akhirnya anda berubah pikiran terhadap saya. Sudah saya duga, anda tidak mungkin menolak kebahagiaan yang saya tawarkan di depan anda. Tidak disangka secepat ini…” Baru masuk ruangan Dokter Sugeng sudah berceloteh.
“Saya memang sudah lama meninbang hal ini.” Mendengar perkataan Heny yang seperti itu Dokter Sugeng tersenyum lebar. Kemudian senyumnya itu menjadi cemberut setelah membaca surat pemindahan kerja yang disodorkan Heny.
“Anda tidak berhak melakukan ini! Anda hanya bidan di sini!” Protesnya segera.
“Kenapa tidak?”
“Saya akan menemui Ibu Arifiani, kepala Puskesmas, baru saya akan menerima pemindahan ini.”
“Anda sedang menemui orang yang baru anda sebut namanya itu.”
“Jangan bercanda, Heny!” Sergah Dokter Sugeng.
“Serius. Orang yang dihadapan anda inilah yang bernama Arifiani H. Sumitro.” Heny tersenyum menunjukkan tanda pengenalnya yang hampir tidak pernah ia pakai sejak kedatangan Dokter Sugeng. “Aifiani Heny Sumitro.” Tegasnya lagi.
Dengan memanggul gengsinya yang melebihi berat Gunung Jayawijaya, Dokter Sugeng meninggalkan ruangan Heny. Ia terus mengumpat dalam hati setelah para perawat mengiyakan bahwa Heny memang pendiri dan pemilik Puskesmas itu.


Karangkates, 10 Juli 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar