"Hari ini aku dibawain apa?" Enin menatap wajah di depannya itu lekat-lekat.
"Taa daa!" Remaja berperawakan tinggi kurus itu mengeluarkan kresek hitam dari dalam tas pinggangnya. "Ayo, makanlah."
"Terimakasih, Mas." Enin senang sekali. Dengan segera dilahapnya ayam goreng berbalut tepung yang merupakan makanan terlezat baginya.
"Mas Arno nggak makan?" Enin menawarkan.
"Sudah kenyang. Kamu makan saja, itu buat kamu semua." Laki-laki yang dipanggil Arno itu mengelus kepalanya. Tanpa banyak bicara lagi Enin melahap tiga potong paha ayam itu. Maklum saja, dua hari ini Enin belum mengisi perut sama sekali. Baru malam ini ia merasakan nikmatnya makanan pemberian Arno.
"Sudah ya, aku harus pulang. Sampai ketemu lusa. Da daa…" Arno melambaikan tangan. Meninggalkan Enin yang duduk kekenyangan di salah satu bangku alun-alun. Sambil mengelus perutnya yang kekenyangan Enin berjalan pulang. Gadis tujuh tahun yang kucel itu mempercepat langkahnya ketika dingin mulai menjalari tubuhnya, membuat kedua kakinya yang tak beralas nyaris kaku. Kedua tangannya ditekuk di dadanya. Ia menyusuri pertokoan yang masih ramai. Melalui swalayan-swalayan besar juga gedung perkantoran bertingkat.
"Dingin sekali." Enin berbisik. Ia terkejut tatkala melihat tangannya dijatuhi rintik-rintik hujan. Tetesan itu semakin deras. Enin berlari, segera berlari sampai di gang kecil yang dipenuhi manusia-manusia penjaja diri. Beberapa wanita berbaju mini tampak kebingungan berlindung dari hujan. Pria berkumis dan berwajah bongol hampir saja menggodanya, Enin semakin mempercepat larinya. Jauh dari gang yang selalu gelap itu, sampailah ia di pemukiman kumuh dimana para pemulung, pengamen atau pengemis seperti dirinya tinggal. Enin melangkah menghampiri rumah kecil yang terbuat dari gedek. Di situlah ia tinggal bersama Siti dan Amir. Enin menguak pintu reyot itu. Tampak Siti dan Amir meringkuk kedinginan di atas sebuah tikar lusuh. Rumah itu berbentuk kubus, tidak ada sekat-sekat untuk ruangan lain. Di dalamnya hanya ada sebuah tikar untuk duduk atau tidur, sebuah kompor butut yang didapat dari memulung di TPA, baju-baju lusuh yang digantung di dinding bambu dan sebuah meja kayu kecil yang jarang dipakai.
"Mbak, apa malam ini kita tidak makan lagi?" Bisik Siti. Suaranya nyaris tertahan. Bukan karena takut bicara tapi ia tidak punya tenaga untuk berbicara lebih keras lagi. Enin tersentak mendengar bisikan adiknya yang masih lima tahun itu. Enin sadar, ia sangat menyesal, mengingat apa yang baru saja dilakukannya. Ia telah benar-benar melupakan kedua adiknya yang sedang kelaparan di rumah. Begitu teganya ia menghabiskan tiga potong paha ayam tadi sendirian. Seandainya ia tidak serakah, malam ini mereka bertiga bisa menikmati makanan lezat pemberian Arno bersama-sama. Ia tertegun, merasa dirinya jahat sekali. Enin merangkul kedua adiknya, meski tidak berasal dari kandungan yang sama ia amat menyayangi Siti dan Amir yang dipertemukan dengannya di pinggiran alun-alun kota beberapa tahun silam. Enin bingung. Ia ikut menangis ketika kedua bocah itu terisak. Tiba-tiba ia teringat recehan di kantongnya. Siti dan Amir memandang hampa ketika Enin menghitung uang-uang koinnya.
"Enam ratus. Ah, biar aku belikan roti di warung Mak. Kalian tunggu ya…" Enin berlari ke warung Mak yang nyaris tidak ada pembelinya. Roti yang dibeli harganya lima ratus, Enin menyimpan sisa uangnya yang seratus ke dalam kantong celananya. Sampai di rumah Enin membagi roti itu jadi dua. Siti dan Amir heran mengapa hanya dua.
"Mbak nggak kebagian." Kata Siti.
"Mbak nggak lapar?" Tanya si bocah empat tahun, Amir.
"Buat kalian saja. Sudahlah, cepat habiskan." Siti dan Amir pun menurut. Sedikit roti itu cukup untuk membuat mereka bisa tidur setelah dua hari tidak ada makanan yang mengisi perut mereka. Enin menyelimuti keduanya dengan sehelai kain batik yang kumal dan berlubang. Sampai larut malam Enin belum juga bisa memejamkan mata. Ia masih sangat menyesal dengan keculasannya tadi. Ia berjanji, bila lusa Arno membawakan makanan lagi, ia tidak akan memakannya sendirian. Ia harus berbagi dengan Siti dan Amir.
Dua hari kemudian Enin menunggu Arno di bangku taman alun-alun. Malam semakin larut tapi yang ditunggu belum juga tiba. Enin bersabar menunggu karena ia terus teringat pada adik-adiknya yang pasti berharap kedatangannya dengan membawa makanan. Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari jarak jauh. Enin melihat seseorang berlari menghampirinya.
"Mas Arno!" Pekiknya girang. Arno memberikan sebuah kresek transparan yang di dalamnya terdapat bungkusan nasi. Arno memegang kedua bahu Enin sambil jongkok di depannya. Ia terengah-engah.
"Enin. Mulai sekarang aku nggak bisa bawain kamu makanan lagi. Aku harus pergi jauh. Kamu jaga diri ya. Ini pemberian terakhirku. Selamat tinggal." Arno pergi dengan tergesa-gesa. Sebelumnya ia menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke tangan Enin. Enin bingung dengan tingkah Arno. Matanya menerawang memandang Arno yang berlalu dari hadapannya. Ah, ia teringat pada Siti dan Amir. Ia harus segera pulang untuk memberikan nasi bungkus itu. Ia membayangkan kedua bocah itu akan bersorak gembira melihat apa yang dibawanya, mereka akan makan nasi itu dengan lahap lalu tidur dengan nyenyak. Suara ribut-ribut kembali membuyarkan lamunan Enin.
"Itu orangnya. Cepat kejar!" Dua orang laki-laki berlari dari kejauhan. Enin melihat Arno sempat menoleh dan tersenyum padanya.
"Berpencar!" Suara itu semakin dekat. Enin berbalik.
Dhuaaarr…!!! Suasana hening sejenak. Arno terkejut bukan main menyaksikan Enin roboh perlahan dengan dada tertembus peluru. Arno berlari meraih tubuh kecil yang terkulai itu. Tetes-tetes air mata membasahi wajahnya yang dingin.
"Ini. Bu…at Si…ti dan… A…mir…" Enin berusaha keras mengatakan hal itu. Arno tidak sanggup berkata lagi. Hanya air matanya yang sanggup melukiskan perasaannya saat itu. Dua orang polisi berpakaian preman menarik tangannya. Ia berontak, dipeluknya gadis sekarat itu. Dia adalah adik kandungnya yang dibuang oleh ibunya karena ayah angkatnya tahu dia anak hasil perselingkuhan ibunya. Arno menyadari tidak ada hembusan nafas lagi di hidung Enin.
"Tiidaaak!!! Seharusnya aku yang kalian tembak! Bukan dia. Bukan dia…" Arno bersimpuh di kaki salah satu polisi. "Ibu kami sama! Bapak kami sama! Kenapa dia yang dibuang. Kenapa dia yang sengsara dan sekarat..." Arno roboh tak berdaya. Ia menurut saja saat kedua polisi itu memborgol dan menggiringnya ke mobil patroli. Arno memejamkan mata. Dalam tangisnya ia tersenyum puas.
"Baguslah kaliah telah kuhabisi. Manusia-manusia biadab, tak bertanggung jawab!" Umpatnya dalam hati.
Karangkates, 25 Mei 2006
Welcome to Ayucities
Reading...
Thinking...
Aspirating...
Writing...
Thinking...
Aspirating...
Writing...
Kamis, 23 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar