Welcome to Ayucities

Reading...
Thinking...
Aspirating...
Writing...

Kamis, 23 Juli 2009

Cerpen : Sisa Perjalanan Nenek

Malam ini aku tidur larut sekali gara-gara memikirkan kerongkonganku sendiri. Tadi siang aku menyaksikan sesuatu yang langka terjadi di rumah ini. Saat itu aku asyik nonton TV sambil tidur-tiduran di kasur tipis di ruang tengah. Saat itu pula nenek mondar-mandir dari kamar ke halaman. Seperti biasa, hobi nenek adalah memetik bunga-bunga melati yang sudah mekar lalu menyimpannya sebagai hiasan di meja kamar. Terkadang bila mawar di halaman bermekaran nenek juga memetiknya kemudian meletakannya dalam gelas berisi air. Sudah dua kali nenek keluar masuk dan pada saat nenek masuk untuk ketiga kalinya, terjadilah yang harus terjadi. Nenek tergesa-gesa masuk dan berjalan cepat dari ruang tamu menuju kamar mandi. Sebuah melati terjatuh bersama sebuah benda asing. Ekor mataku menangkap dua benda yang jatuh bersamaan itu. Aku cuek dan melanjutkan nonton TV sampai nyaris ketiduran.
Rumah tak pernah ramai seperti hari-hari sebelumnya. Hanya suara TV yang mengisi keheningan ruang tengah. Sepertinya nenek di kamar dan tidak keluar lagi. Ekor mataku menangkap lagi benda di seberang karpet yang jatuh tadi dan seketika aku terhenyak. Ingin berteriak tapi hati membisu, mau mengumpat bibir tak kuasa membuka. Oh...apa itu? Aku melihat yang tak ingin kulihat dan tak seharusnya kulihat. Benda itu membuatku senewen. Segera kupungut melati itu dan kusatukan dengan melati-melati lain di keranjang kecil yang ada di meja kamar. Kulihat nenek tidur pulas dengan nafas agak berat.
Hari ini aku diliputi dilema menggelikan antara mau dan tidak mau, antara perasaan bersalah dan geli. Astaga, apa-apaan aku ini sampai mendiamkan hal sepele yang bisa menyusahkan orang lain. Sialnya lagi tidak ada seorang pun yang bisa diajak bicara. Jadilah aku kelimpungan sendiri di ruang tengah. Berusaha melupakan tapi semakin memikirkan karena benda itu selalu tampak. Kecil tapi tengil. Aku benci harus melihatnya. Seandainya aku tak pernah melihatnya. Tentu tak perlu bergelisah hati serta bimbang tanpa tindakan seperti ini.
Aku harus bagaimana? Memungut benda itu lalu membuangnya? Memelototinya dan berharap benda itu lenyap dengan sendirinya? Atau harus kupanggil nenek dan mengatakan benda itu tadi jatuh dan meminta nenek mengambilnya? Betapa tidak sopannya aku kalau begitu.
Satu menit yang kulalui terasa selama satu jam. Aku terjebak dalam kebingungan yang tidak jelas. Entah jijik, takut, malas atau risih, aku tak sanggup bertindak walau niat sedikit terbersit. Kuputuskan diam sampai ibuku pulang. Mungkin ibu satu-satunya orang yang dengan tulus akan menyelesaikan masalah ini. Karena ibu yang lebih mengenal nenek dan aku... haruskah disebut pecundang... atau kurang ajar....
Syukurlah ibu pulang, aku tersenyum dalam hati menanti ibu melihat benda itu tapi tak terjadi. Lama kutunggu tak juga ada yang menyelesaikannya. Ibu masih sibuk menyiapkan makan siang. Aduh, sampai kapan aku dirundung cemas ini. Ibu...cepat lihatlah! Lakukan sesuatu, Bu! Aku berteriak-teriak dalam hati.
Siang mendung membuatku segera terlelap. Aku sempat melupakan benda itu. Hatiku pun lega, aku bisa benar-benar tersenyum. Karena benda kecil yang menggelisahkan itu telah raib dari seberang karpet. Ooh...lega...lega... Aku lega... Pasti ibu yang membuang kotoran nenek yang jatuh ke lantai saat nenek berjalan tergesa-gesa ke kamar mandi.
”Nenek sakit perut tadi........” Kata ibu tiba-tiba. Aku terpingkal-pingkal dalam hati tapi hanya berani tersenyumkecil menandakan aku terkejut dengan cerita ibu. Hehehe…


Karangkates, 19 Juli 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar