Welcome to Ayucities

Reading...
Thinking...
Aspirating...
Writing...

Kamis, 23 Juli 2009

Cerpen : Berakhir Di Padang Duka

Andang selalu tersentak setiap kali bel pulang sekolah berbunyi. Pikirannya langsung tertuju pada ibunya di rumah yang badannya semakin kurus dirongrong penyakit. Dua bulan terakhir ini ibu Andang terserang TBC dan kondisinya terus memburuk karena keterbatasan mereka untuk berobat.
"Hei, melamun apa? Kau mau pulang tidak?" Pino mengguncang bahu Andang. Andang cuma mengangguk lalu bergegas mengikuti Pino keluar dari kelas. Setiap hari Andang dan Pino berboncengan sepeda berangkat dan pulang sekolah. Sepeda itu milik Pino tetapi mereka bergantian memakainya. Pino hidupnya lebih beruntung karena memiliki keluarga yang utuh dan cukup dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pino yang baik selalu membantu Andang dalam kondisi apapun. Pino sangat memahami kehidupan sekeras baja yang dialami Andang sejak kecil. Ketika masih kelas 3 SD, ayah Andang ikut rombongan pekerja bangunan ke Jakarta. Di sana Ayahnya menjadi kuli bangunan dan naas yang menimpa ayah Andang membuatnya menjadi seorang yatim. Ayah Andang terserang penyakit malaria dan meninggal di sana. Setelah itu ibu Andang mengambil alih jadi pencari nafkah untuk membiayai sekolahnya. Setiap pagi sampai siang ibunya jadi buruh cuci pakaian dan sore harinya berjualan goreng-gorengan dengan modal seadanya. Melihat kondisi yang seperti itu Andang tidak bisa diam saja. Ia selalu berusaha melakukan apa pun untuk meringankan beban ibunya. Ia tidak sampai hati melihat ibunya setiap hari berpanas-panas di depan penggorengan sambil menyeka peluh yang mengaliri dahi dan semakin menyimpulkan wajah tua itu. Karena itu Andang tidak ingin membuang waktunya hanya untuk bermain bila tanpa hasil. Banyak pekerjaan lain yang lebih berarti bila ia bisa mengerti jalan mana yang benar. Tak jarang ia terima tawaran mengangkuti karung beras di toko di pinggir jalan yang setiap hari ia lewati saat berangkat dan pulang sekolah. Upahnya lumayan untuk menambah modal dagang goreng-gorengan dan terkadang untuk menabung sedikit.
"Aku tidak mampir ya, ibu menyuruhku cepat pulang." Pino menurunkan Andang di depan gang kecil tak jauh dari sekolah.
"Tidak apa-apa. Hati-hati ya." Andang melambaikan tangannya dan Pino kembali mengayuh sepedanya. Dalam hati Andang benar-benar bersyukur mempunyai sahabat seperti Pino. Tiba-tiba ia teringat ibunya kembali. Ia segera berlari ke rumahnya sebab ia sangat mengkhawatirkan kondisi ibu yang tak kunjung sehat.
"Assalamu'alaikum!" Andang membuka pintu. Tidak ada jawaban. Ia langsung menuju kamar ibu.
"Ndang, sudah pulang." Mbak Titin, tetangga sebelah rumah sedang mengompres kening ibu.
"Mbak kok ada di sini. Ibu kenapa?" Andang cemas dan mendekati ibunya.
"Tadi mbak bermaksud mampir sebentar, waktu dipanggil ibumu tidak menjawab. Mbak langsung masuk saja, ternyata sakit ibumu tambah parah. Badannya lemah sekali."
"Ibu. Ya Allah, bagaimana ini, obat ibu sudah habis." Andang terduduk lemas di samping ranjang.
"Jangan khawatir, Andang. Mbak Titin sudah belikan obat untuk ibumu."
Perlahan ibu membuka mata. Wajah ibu semakin cekung saja dengan lingkaran hitam di matanya. Selepas ashar mbak Titin pamit pulang. Andang masih menunggui ibunya. Ia tak tahu cara seperti apa lagi yang mampu ia lakukan untuk mengusahak kesembuhan ibunya. Mereka sudah tidak punya uang lagi. Ibunya sakit dan membutuhkan biaya untuk berobat. Pada saat yang sama harga obat sangat mahal. Sementara itu dua bulan lagi Andang akan mengikuti Ujian Akhir Nasional yang juga belum dibayarnya. Andang bukan siswa cerdas yang selalu mendapat beasiswa. Ia Cuma mendapat beasiswa bagi anak didik yang kurang mampu dan uang itu habis untuk berobat ibunya. Untungnya Andang adalah siswa yang rajin dan pandai bersosialisasi sehingga banyak pihak baik dari sekolah maupun luar sekolah yang sering membantu dalam hal ekonomi. Apalagi di saat ibunya sakit seperti ini. Namun rejekipun tak selalu datang dari para dermawan itu. Ketika semua uangnya telah habis, keputusasaan sering menghantui dirinya. Andang sangat menyayangi ibunya, hal ini membuatnya berpikir jauh lebih dewasa dari teman-temannya yang lain yang bisa menjalani hidup santai dengan sokongan biaya yang cukup dari orang tua mereka. Andang benar-benar merasakan bagaimana Allah memberinya cobaan.
Tiga hari dilaluinya dengan perasaan getir tak karuan. Andang tak mau memikirkan bagaimana harus melunasi uang ujian. Ia hanya memeras otak untuk dapat menyembuhkan ibu. Ketakutan yang ganas menaungi batinnya. Ketakutan seorang anak bila kehilangan ibu yang paling dicintainya. Ketakutan seorang anak yang takut sebatang kara bila ibunya meninggalkannya.
"Ya Allah…apa yang harus kuperbuat?" Air mata mengalir perlahan dalam shalatnya.
"Kumohon Ya Allah… Aku sangat ingin ibu sembuh dari sakitnya. Karena tidak ada lagi orangtua yang kuharapkan dan kusayangi selain ibu. Jangan biarkan kami menderita terus Ya Allah… kumohon sembuhkan ibuku, sembuhkan ibuku, kumohon Ya Allah…" Andang menatap ibunya yang sedang tidur. Pandangan yang sungguh memilukan. Nalurinya seakan tercabik-cabik dan tiada daya untuk berupaya sedikitpun. Penderitaan yang paling hebat itu adalah ketika kita menyaksikan ibu sakit sementara kita tidak memiliki kekuatan untuk berikhtiar menolongnya.
"Yuk berangkat!" Pino sudah menunggu di depan gang.
"Ndang, kuperhatikan kamu kok jadi pendiam. Ada masalah apa?" Pino mulai mengayuh sepeda.
"Ibuku. Sakitnya tak kunjung sembuh."
"Ibumu masih suka batuk-batuk?"
"Ya, bahkan sampai mengeluarkan darah. Aku sangat cemas. Tidak tahu bagaimana aku bisa membeli obat." Setelah itu keduanya terdiam sampai mereka tiba di sekolah. Pino ikut sedih mengetahui kondisi ibu Andang yang tak membaik. Ia berpikir keras untuk bisa membantu sahabatnya dan ia teringat sesuatu.
"Nanti pulang sekolah kau bisa ikut aku." Pino melihat wajah Andang yang masih murung.
"Kemana, No?"
"Kerumah Pak De Abidin. Kau tentu masih ingat, dia adik ayahku yang bekerja sebagai mantri." Pino menjelaskan.
"Oya, aku ingat. Untuk apa kita ke sana?"
"Kita akan mengajak Pak De Abidin kerumahmu. Biar Pak De memeriksa dan memberi obat untuk ibumu." Pino merangkul Andang.
"Subhanallah. Apa tidak merepotkan…"
"Yang penting ibumu, Ndang. Lagipula sudah seharusnya aku membantumu."
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Pino." Keduanya berpelukan dan Andang merasa lebih lega. Di benaknya ia benar-benar berharap melihat ibunya sembuh seperti sedia kala.
Sepulang sekolah Pino dan Andang segera melesat ke rumah Pak De Abidin. Tidak lama kemudian ketiganya pergi ke rumah Andang. Pak De Abidin tak lupa membawa peralatannya dan obat-obatan. Andang tak sabar untuk tiba di rumah. Ia sangat bersyukur karena rejeki yang baru didapat dari sahabatnya itu.
Sampai di rumah, Andang segera mempersilahkan Pak De masuk ke kamar ibu. Dilihatnya ibu sedang tidur.
"Ini ibu saya, silahkan diperiksa Pak De." Andang mendekat ke ranjang tempat ibunya berbaring.
"Baiklah." Pak De Abidin mulai memeriksa ibu. Sewaktu memeriksa denyut nadi ibu, Pak De mengulanginya beberapa kali. Alis Pak De meninggi beberapa kali. Andang menangkap sesuatu yang tidak enak, Pak De mulai tampak panik, ia menekan perut ibu beberapa kali. Sepuluh menitpun berlalu berganti jadi sunyi. Pak De menatap Andang dengan pandangan kosong. Diraihnya tangan Andang, dipeluk dan dibisikkan sesuatu.
"Andang, sabarlah nak. Kuatkan hatimu. Ikhlaskan kepergian ibumu." Andang terpaku. Ia menoleh ke arah ibu yang tampak kaku membujur di atas dipan. Namun ia tidak mudah percaya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…" Pino mengelus-elus punggung Andang.
Andang sudah tidak berkata-kata lagi. Darahnya seakan berhenti mengalir. Tidak disangka Allah telah mengambil ibunya untuk selama-lamanya. Matanya berkunang-kunang. Setelah sempat membisikkan kata 'Ibu', ia lunglai tak sadarkan diri.
Sehari setelah kematian ibunya, Andang meninggalkan rumah pagi-pagi sekali. Sebelum matahari terbit menyapa bumi ia sudah berjalan begitu jauh. Bagai anak ayam kehilangan induknya, ia terus berjalan jauh. Tak terasa ketika hari terang Andang sudah berada di sebuah jalan tol. Ia tidak peduli tatapan orang-orang padanya. Andang terus menyeret sandalnya menyusuri pinggir jalan tol yang kian ramai oleh kendaraan.
Matahari semakin tinggi, sinar hangatnya menyilaukan mata Andang. Kakinya terasa lelah, ia berhenti sebentar di tepi jalan tol. Ia memandang ke sekelilingnya. Sesaat kepalanya terasa pusing. Andang menunduk lemas, berat sekali untuk mengangkatnya kembali. Setelah agak tenang ia memejamkan mata. Beberapa saat kemudian Andang mengangkat kepalanya, membuka mata perlahan. Pandangannya sedikit kabur, samar-samar ia melihat bapaknya di seberang jalan. Andang menatap heran, ia juga melihat ibunya berada di tengah jalan. Ia tidak memperhatikan bila sebuah mobil sedang melaju kencang ke arahnya. Ia tak kuasa memikirkan semuanya itu. Ia menoleh ke kanan dan di dapatinya Pino tengah melambai-lambaikan tangan di atas sepeda yang biasa memboncengnya. Ah…kepala Andang mendadak pusing lagi. Pelan-pelan ia melangkah, semakin cepat, dan Andang pun berlari. Ia akan menyelamatkan ibunya yang dilihatnya sedang terancam bahaya. Kalau tetap berada disitu ibu bisa tertabrak mobil, begitu pikirnya.
Peristiwa mengerikan baru saja terjadi. Seorang pria setengah baya turun dari mobil. Berjalan lesu ke arah orang-orang yang mulai berkerumun.
"Memangnya bapak tidak melihat kalau anak ini ada di tengah jalan." Seorang pengendara mobil yang lain menanyainya.
"Inikan jalan bebas hambatan. Aku sudah terlanjur melaju kencang, anak ini tiba-tiba sudah ada di tengah jalan." Pria itu ngotot bahwa dia tidak sengaja menabrak.
"Anak ini telah tewas." Polisi yang memeriksanya segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa korban ke rumah sakit.
"Kasihan anak itu." Seorang wanita tua tak tega menatap Andang yang telah meninggalkan langkahnya di dunia untuk selamanya. Ucapan yang sama juga menyeruak di hati orang-orang yang berada di tempat kejadian.
Perjalanan hidup Andang yang banyak menderita di usianya yang masih muda, telah berakhir dengan kejadian mengerikan pagi itu. Tanpa ucapan selamat jalan dari orang-orang yang menyayanginya.


Karangkates, 12 Mei 2005

0 komentar:

Poskan Komentar